Menariknya, kisah dalam film ini diadaptasi dari sebuah thread viral yang pernah menghebohkan media sosial, ditulis ulang oleh Aura Gemintang, Jero Point, Baskoro Adi Wuryanto, dan divisualisasikan dengan garapan apik oleh Pichouse Films.
Kombinasi ini menjanjikan kisah yang tidak hanya menyeramkan secara sinematik, tetapi juga relevan dengan kondisi masyarakat yang sering kali cepat menghakimi tanpa bukti.
Pemeran pendukung lainnya, Kaneishia Yusuf sebagai Nurul, M. Iqbal Sulaiman sebagai Ali, T. Rifnu Wikana sebagai Ustadz Ridwan, hingga Ariyo Wahab sebagai Ustadz Bagas, turut memperkuat kesan bahwa horor ini bukan main-main.
Setiap karakter memiliki peran dalam menyuarakan bagaimana ketakutan bisa mengubah wajah kebaikan menjadi kebiadaban.
“Pembantaian Dukun Santet” bukan hanya mengandalkan elemen seram, tetapi juga menyentil sisi gelap masyarakat, tentang bagaimana mudahnya manusia kehilangan akal sehat ketika dihadapkan pada rasa takut yang mendalam.
Apakah kamu siap menelusuri kegelapan pesantren dan menghadapi ketakutan yang lebih nyata dari santet itu sendiri?
Jangan lewatkan, 8 Mei 2025. Film ini akan jadi salah satu horor lokal paling berani dan mengusik nurani.***