“Hariku takkan mendung, ku selalu berlindung sebab kamu, disisiku. Selalu ada untukku. Kembalilah padaku. Kembali padaku. Kembali pada-Mu.”
Tak hanya soal karya, Ardhito mengisahkan dinamika persahabatan mereka yang penuh warna. Mereka kerap berselisih, namun selalu cepat berdamai kembali.
“Kita kalo berantem kaya orang pacaran, baikan langsung nangis-nangisan,” tulisnya.
Baginya, Gusti bukan sekadar sahabat. Ia adalah sosok seniman sejati yang hidupnya diabdikan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
“Gusti bukan hanya seorang teman. Gusti adalah seniman, penghibur, psikolog dan orang paling tulus, hidupnya didedikasian untuk memberikan kemaslahatan untuk kita semua.”
Di akhir pesannya, Ardhito menyampaikan salam perpisahan dan menitipkan salam kepada ayah Gusti, almarhum musisi Timur Priyono.
“Sekarang lo udah kembali Gus. Salam buat om Timur ya Gus. Gue sayang banget Gus sama lo, kita sayang banget sama lo. Selamat kembali pada-Nya, Gusti Irwan Wibowo.”
Ungkapan Ardhito menjadi salah satu bentuk penghormatan tulus bagi seorang sahabat dan seniman yang telah berpulang, meninggalkan warisan karya dan kasih yang tak terlupakan.***