Mediaprianga.com - Gelombang pengunduran diri perempuan dari dunia kerja tengah melanda Amerika Serikat pada 2025.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, sejak Januari hingga pertengahan tahun ini, 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka.
Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, menyoroti penurunan partisipasi kerja perempuan usia 25–44 tahun yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun.
Angkanya merosot hampir tiga poin, dari 69,7 persen menjadi 66,9 persen.
"Ini kemunduran besar," ujar Heggeness sebagaimana dilansir dari TIME pada Minggu, 10 Agustus 2025.
Ia menjelaskan, tren positif yang sempat terjadi sejak 2022 berbalik arah setelah kebijakan kerja fleksibel mulai dihapus.
Presiden AS, Donald Trump, mewajibkan pegawai federal kembali bekerja di kantor penuh lima hari sepekan.
Baca Juga: 4 Hotel di Puncak Disegel Kementerian Lingkungan Hidup, Duga Buang Limbah Cair ke Sungai Ciliwung
Perubahan itu sulit diikuti bagi mereka yang sudah pindah tempat tinggal atau terbiasa bekerja jarak jauh.
Kebijakan serupa diikuti oleh perusahaan besar seperti Amazon dan JP Morgan.
Menurut Flex Index, jumlah perusahaan Fortune 500 yang mengharuskan kerja penuh di kantor melonjak dari 13 persen pada akhir 2024 menjadi 24 persen di kuartal II 2025.
Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS, mengungkapkan bahwa dampaknya terasa paling berat pada kelompok perempuan berpendidikan sarjana.