Konsistensi cita rasa inilah yang membuat Soto Gading mampu bertahan sebagai kuliner anti FOMO di tengah perubahan tren makanan yang begitu cepat.
2. Gudeg Yu Djum, Yogyakarta
Bergeser ke Yogyakarta, ada Gudeg Yu Djum yang menawarkan karakter gudeg kering dengan cita rasa manis dan gurih.
Proses memasaknya membutuhkan waktu panjang. Nangka muda dimasak bersama bumbu hingga teksturnya empuk dan rasa rempah benar-benar meresap.
Cara pengolahan yang membutuhkan kesabaran tersebut menjadi salah satu bagian dari karakter gudeg yang ditawarkan.
Keistimewaan Gudeg Yu Djum bukan hanya soal nama besar. Pelanggannya juga berasal dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat lokal yang sudah mengenal rasanya sejak lama.
Di tengah budaya kuliner yang mudah berubah karena tren, Gudeg Yu Djum memperlihatkan bagaimana resep dan kualitas yang dipertahankan secara konsisten bisa membuat sebuah tempat makan terus bertahan.
Karena itu, gudeg ini layak masuk daftar kuliner anti FOMO yang tidak bergantung pada popularitas sesaat.
3. Tahu Gimbal H. Edy, Semarang
Dari Yogyakarta, perjalanan berlanjut ke Semarang. Salah satu kuliner malam yang menarik perhatian adalah Tahu Gimbal H. Edy di kawasan Taman KB atau sekitar Simpang Lima.
Antrean panjang menjadi pemandangan yang cukup umum ketika malam tiba. Namun, keramaian tersebut bukan semata-mata karena sebuah video makanan sedang masuk FYP.
Rahasia daya tariknya ada pada kombinasi tahu, lontong, kol, gimbal atau bakwan udang, serta siraman bumbu kacang yang memiliki karakter khas. Aroma petis udangnya terasa, tetapi tidak berlebihan.