"Ya salah satu bentuk protes, kita harusnya memasak di rumah, kita dibawa ke sini," ungkapnya.
"Kita ibu-ibu, jangan sampai gitu lah direpotkan untuk seperti ini. Kita inginnya kita memasak untuk anak-anak di rumah," imbuh Neni.
Keluhan lain yang disampaikan berkaitan dengan sistem seleksi yang dianggap mengarahkan calon peserta didik ke sekolah swasta meski sebelumnya memilih sekolah negeri.
"Padahal pilihan anaknya SMA negeri dan SMK negeri. Tapi dari sistem malah diarahkan ke SMK swasta, tanpa ada pilihan lain," jelasnya.
Selain kelompok emak-emak, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung juga menyampaikan aspirasi mereka.
Baca Juga: WTP Kota Tasikmalaya Raih Rekor 10 Kali Beruntun, LKPD 2025 Kembali Diganjar Opini Tertinggi BPK
Massa mahasiswa menyoroti kondisi ekonomi nasional, termasuk harga BBM naik dan pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat.
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026 menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam aksi tersebut. Menurut mahasiswa, harga BBM naik berpotensi memengaruhi biaya hidup dan aktivitas ekonomi masyarakat luas.
Koordinator FMN Bandung Raya, Ainul Mardhiyah, menyampaikan bahwa tuntutan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan harga BBM naik.
Mereka juga mendorong perubahan kebijakan industri nasional yang dianggap penting untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi.
"Selain itu, mahasiswa mendesak penghentian program MBG yang dinilai bermasalah, serta menuntut pendidikan gratis," terangnya.
Tuntutan pendidikan gratis turut menjadi salah satu agenda utama yang disuarakan mahasiswa dalam aksi tersebut. Mereka menilai akses pendidikan harus semakin terbuka dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Mahasiswa juga menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila berbagai tuntutan, termasuk terkait pendidikan gratis, tidak memperoleh respons dari pihak terkait.***