daerah

Antrean Ketapang-Gilimanuk Terus Mengular, Pakar ITS Ungkap Strategi Pangkas Waktu Sandar hingga 7 Menit

Minggu, 20 September 2026 | 08:56 WIB
Antrean Ketapang-Gilimanuk disoroti pakar ITS. Optimalisasi trip dan pemangkasan waktu bongkar muat dinilai bisa mengurai kepadatan. (Dok. Promedia)

 

BANYUWANGI, Mediapriangan.com - Antrean kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk, Banyuwangi, Jawa Timur, dalam sebulan terakhir menjadi perhatian pengamat transportasi. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan pengaturan operasional yang lebih efisien agar pergerakan kendaraan tidak semakin tersendat.

Pengamat transportasi sekaligus alumnus Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ali Ruchi, menilai persoalan utama tidak semata-mata berada pada jumlah kapal yang tersedia.

Menurutnya, armada yang saat ini beroperasi perlu dioptimalkan melalui peningkatan jumlah trip dan pengurangan waktu kapal berada di dermaga. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan pergerakan kapal tanpa harus langsung menambah kapal berukuran besar.

Baca Juga: Pengasuh Balita di Palembang Dibekuk Polisi, Kasus Kekerasan Terungkap dari Video yang Dikirim Tetangga

Salah satu skenario yang ditawarkan yakni meningkatkan operasional hingga sembilan trip untuk setiap kapal. Pada saat yang sama, durasi bongkar muat di dermaga MB diusulkan dipangkas dari rata-rata delapan menit menjadi enam hingga tujuh menit.

Sementara di dermaga LCM, waktu bongkar muat dapat ditekan menjadi sekitar 10 hingga 11 menit.

"Skenario ini dirancang untuk memangkas turnaround time kapal, sehingga jumlah total pergerakan atau trip harian otomatis meningkat tanpa perlu memicu kepadatan baru di alur pelayaran, skema ini sudah pernah dilakukan pada sekitar tahun 2016 lalu saat LCT dilarang beroperasi,” terang Ali, Jumat (18/9/2026).

Menurut Ali, optimalisasi waktu operasional menjadi bagian penting untuk mengurai antrean kendaraan yang terjadi di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Baca Juga: Rumah ASN di Cileunyi Digerebek, Polisi Temukan 36 Pohon Ganja hingga Tanaman Berusia 4 Bulan

Penambahan Kapal Besar Dinilai Belum Cukup

Upaya menambah kapal berkapasitas besar sebenarnya telah dilakukan ASDP melalui pengoperasian kapal Portlink dan Jatra. Namun, menurut Ali, penambahan armada tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak diikuti peningkatan frekuensi perjalanan.

Ia juga menilai kapasitas kapal yang beroperasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan angkutan kendaraan, termasuk kendaraan dengan muatan 50 ton ke atas.

"Kehadiran kapal berukuran sangat besar berpotensi menyita alokasi waktu sandar dan ruang alur, yang justru memangkas frekuensi trip kapal-kapal kecil dan sedang yang selama ini beropeasi di alur penyeberangan ketapang gilimanuk,” tambah Mantan Kepala Seksi Perhubungan Laut dan Udara Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini