Lonjakan ini dipengaruhi oleh penguatan posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik serta pertumbuhan pesat perdagangan digital. Aktivitas Korporasi di sektor ini memperlihatkan ekspansi yang agresif, sehingga harga lahan industri dan tarif sewa logistik tetap terjaga stabil, meski tekanan pasokan mulai terasa.
Pada sektor ritel, Pasar Properti Jakarta juga menunjukkan ketahanan. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan bertahan di atas 85 persen sepanjang 2025.
Baca Juga: AFTECH, Easycash, dan IARFC Luncurkan MOJANG, Perkuat Literasi Keuangan dan Reputasi Kredit Gen Z
Mal kelas atas bahkan mencatat okupansi sekitar 95 persen, didorong inovasi konsep pop-up store dan zona gaya hidup yang memperpanjang durasi kunjungan konsumen.
Seluruh dinamika tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan fundamental Ekonomi Indonesia. Angela Wibawa menilai kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, berpeluang mencatatkan kinerja investasi dan sewa yang lebih kuat pada 2026.
Indonesia tetap menarik bagi investor asing berkat sumber daya alam melimpah, kekuatan komoditas, dan pasar konsumen yang besar serta terus berkembang.***
Artikel Terkait
Indodana PayLater Resmi Tersedia di KFC Indonesia, Perluas Akses Pembayaran Digital untuk Pelanggan KFCKU
Dorong Lingkungan Berkelanjutan, Telkomsel Poin dan Kitabisa Tanam 3.000 Lamun di Pangandaran
Perlindungan Masyarakat Diperkuat Jelang Nataru 2025 2026, IFG Siagakan Layanan Terpadu
UMKM Didorong Naik Kelas lewat GenSi, Indosat Perkuat Literasi Digital untuk Usaha
Theo Derick Ungkap Sandwich Generation Muncul karena Mindset Investasi, Bukan Sekadar Beban Ekonomi
Tiga Penghargaan Nasional Menandai Konsistensi JNE dalam Layanan Logistik Berbasis Nilai Halal