Pengalaman-pengalaman itulah yang menurut Huang, membentuk dirinya menjadi sosok yang tidak mudah menyerah dan belajar banyak tentang kerja keras.
Di usia 15 tahun, Huang mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran cepat saji bernama Denny’s.
Menurutnya, pekerjaan ini mengajarkan nilai-nilai rendah hati, ketekunan, dan dedikasi dalam bekerja.
Ia bahkan dengan bangga mengatakan bahwa dirinya adalah pencuci piring terbaik di Denny's pada saat itu.
Membangun NVIDIA: Langkah Pertama Menuju Kejayaan di Dunia Teknologi
Huang melanjutkan pendidikan di Oregon State University, dimana ia mengambil jurusan Teknik Elektro.
Di kampus tersebut, ia bertemu dengan Lori Mills, yang kini menjadi istrinya.
Setelah lulus, Huang bekerja paruh waktu di perusahaan chip komputer sembari melanjutkan studi master di Stanford University. Di sinilah ide untuk mendirikan NVIDIA mulai muncul.
Pada tahun 1993, bersama dua rekannya, Chris Malachowsky dan Curtis Priem, Huang mendirikan NVIDIA dengan modal awal sebesar 40 ribu dolar AS (sekitar Rp636 juta).
Mereka memutuskan untuk berfokus pada pengembangan chip untuk pemrosesan grafis yang akan mendukung kinerja komputer.
Meskipun awalnya tidak mudah, NVIDIA mulai membuktikan dirinya dengan memproduksi chip berkualitas yang dibutuhkan oleh pasar.
Pada tahun 1999, NVIDIA go public dan sejak itu perusahaan ini terus berkembang pesat.