Menurut laporan Business Insider, puisi ini menjadi bagian dari pelatihan Survival, Evasion, Resistance, and Escape (SERE) Angkatan Laut AS.
Tentara AS yang pernah mengikuti pelatihan tersebut menyebutkan bahwa puisi ini sering dinyanyikan untuk menguji daya tahan psikologis mereka.
Ward Carroll, seorang lulusan SERE, berbagi pengalamannya saat harus mengulang puisi ini berulang kali di dalam sel kecil pada tahun 1984. “Puisi itu menghantui,” kenangnya.
Karya Kipling ini menceritakan perjalanan tanpa akhir para prajurit Inggris di Afrika, di mana mereka berbaris berminggu-minggu tanpa tujuan, hanya ditemani sepatu bot yang menjadi simbol keterjebakan dan keputusasaan.
Berikut penggalan puisi Boots karya Kipling:
We're foot, slog, slog, slog, sloggin' over Africa
Foot, foot, foot, foot, sloggin' over Africa
Boots, boots, boots, boots, movin' up and down again!
There's no discharge in the war!
(Kami melangkah, melangkah, melangkah, melangkah, melangkah melintasi Afrika
Langkah, langkah, langkah, langkah, langkah, melangkah melintasi Afrika
Sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, bergerak naik turun lagi!
Tidak ada pelepasan dalam perang!)
Seven, six, eleven, five, nine-an' twenty mile today
Four, eleven, seventeen, thirty-two the day before
Boots, boots, boots, boots, movin' up and down again!
There's no discharge in the war!
(Tujuh, enam, sebelas, lima, sembilan puluh dua mil hari ini
Empat, sebelas, tujuh belas, tiga puluh dua hari sebelumnya
Sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, bergerak naik turun lagi!
Tidak ada pelepasan dalam perang!)
Don't, don't, don't, don't, look at what's in front of you
Boots, boots, boots, boots, movin' up an' down again
Men, men, men, men, men go mad with watchin' 'em
An' there's no discharge in the war!
(Jangan, jangan, jangan, jangan, lihat apa yang ada di hadapanmu
Sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, sepatu bot, bergerak ke atas dan ke bawah lagi
Pria, pria, pria, pria, pria menjadi gila melihatnya Dan
Tak ada pelepasan dalam perang!)
Keunikan 28 Years Later
Dengan memadukan horor psikologis, musikalisasi puisi, dan aksi mendebarkan, 28 Years Later menjanjikan pengalaman sinematik yang tak terlupakan.
Film ini tak hanya menyajikan cerita yang mendalam, tetapi juga mengangkat elemen sejarah yang memengaruhi kehidupan nyata.