"Saat orang-orang tidur, saya tetap disuruh latihan, akhirnya jam 1 malam saya nekat kabur sendirian dari rumah Pak Frans,” tambah Vivi.
Vivi mengaku insiden tersebut terjadi ketika usianya masih sangat muda, saat dirinya menjadi bagian dari pertunjukan sirkus di TSI Cisarua, Bogor.
Pengalamannya mencerminkan betapa kerasnya tekanan fisik yang ia alami selama masa itu.
Senada dengan Vivi, Butet yang juga pernah menjadi bagian dari pertunjukan sirkus, menyampaikan kesaksian serupa.
Baca Juga: Tangis Korban Eksploitasi Sirkus Taman Safari, Dipekerjakan Sejak Kecil, Tak Tahu Identitas Asli hingga Dewasa
Ia menyebut nama Frans Manansang sebagai sosok yang paling sering melakukan kekerasan fisik terhadap para pemain.
"Waktu itu yang paling sering (melakukan kekerasan) adalah Frans Manansang,” kata Butet dalam sebuah kesempatan.
Tudingan yang dialamatkan kepada Frans bukan tanpa dasar.
Banyak dari pengakuan korban yang memiliki kemiripan kronologis, mulai dari kekerasan saat latihan hingga larangan mendapatkan hak dasar seperti istirahat dan kebebasan beraktivitas.
Respons publik pun tidak kecil. Nama Frans Manansang menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Banyak netizen menyuarakan dukungannya kepada para korban dan mendesak adanya penyelidikan mendalam terhadap kasus ini.
Mereka juga mempertanyakan tanggung jawab moral para pendiri lembaga konservasi besar seperti TSI, yang justru diduga terlibat dalam praktik kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan yang bekerja di dunia sirkus.***