Mediapriangan.com - Tekanan inflasi dan kondisi ekonomi yang serba tak pasti ternyata tak menghalangi sebagian orang untuk mencari hiburan.
Fenomena ini kini dikenal dengan istilah treatonomics, sebuah tren membeli “kemewahan kecil” yang memberi rasa senang meski situasi keuangan sedang menantang.
Jika dahulu dikenal lipstick effect, di mana masyarakat tetap membeli kosmetik saat krisis, treatonomics hadir dengan sentuhan baru: kombinasi nostalgia, gaya hidup digital, dan identitas generasi muda, khususnya Gen Z.
“Dari mainan edisi terbatas, tiket konser, hingga merchandise unik seperti Labubu, semua menjadi bagian dari budaya baru ini,” tulis AInvest dalam laporannya, Minggu 10 Agustus 2025.
Bagi Gen Z, nilai suatu barang tak lagi sebatas fungsi, tapi juga makna emosional.
Mereka rela menghemat untuk kebutuhan rumah tangga, namun tak segan mengeluarkan jutaan rupiah demi LEGO langka, tiket konser Taylor Swift, atau boneka Labubu edisi khusus.
Data AInvest menunjukkan pada 2025, Gen Z menyumbang 34% pengguna baru platform lelang digital, dan 54% dari mereka menjadi pembeli koleksi untuk pertama kalinya.
Pola belanja ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama: nostalgia yang dikemas modern, dorongan media sosial, serta pandangan bahwa koleksi adalah bentuk investasi.
Strategi kelangkaan dan fear of missing out (FOMO) turut membuat mereka terdorong untuk membeli berulang kali.
“Orang bisa berhemat untuk belanja kebutuhan rumah tangga, tapi rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk set LEGO langka, tiket konser Taylor Swift, atau boneka Labubu edisi khusus,” nilai AInvest.