gaya-hidup

Fenomena 2025, Ratusan Ribu Perempuan AS Mundur dari Kerja, Dampak Dicabutnya Kebijakan Fleksibilitas Kantor

Senin, 11 Agustus 2025 | 11:14 WIB
Ilustrasi tempat atau fasilitas sekolah bagi anak usia dini. (Unsplash.com/GautamaArora)

Baca Juga: Fadli Zon Targetkan Peluncuran Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Oktober–November 2025, Pastikan Tanpa Intervensi

Tingkat partisipasi mereka turun dari 70,3 persen pada September 2024 menjadi 67,7 persen pada Juli 2025.

"Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas hilang," kata Vogtman.

Ia menambahkan, riset menunjukkan kerja jarak jauh membantu perempuan tetap bertahan di dunia kerja.

"Perempuan masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan. Ketika beban ini tak lagi seimbang dengan pekerjaan, mereka lebih mungkin mundur dibanding pria," tuturnya.

Baca Juga: Filosofi Avicenna dalam Kitab Al-Shifa, Jiwa Tenang sebagai Sumber Kecerdasan yang Terungkap Sejak Seribu Tahun Lalu

Sebuah studi Survei Walr pada 2024 menemukan adanya eksodus karyawan senior di perusahaan seperti Microsoft, SpaceX, dan Apple setelah kebijakan ini diterapkan.

Kondisi tersebut dinilai mengancam daya saing perusahaan, dengan hampir dua pertiga eksekutif C-suite mengakui bahwa kebijakan baru memicu keluarnya banyak perempuan, memperburuk rekrutmen, dan menurunkan produktivitas.

"Kebanyakan keputusan ini datang dari orang-orang yang punya 'privilege' karena mereka punya orang yang suka memasak, menyetrika, atau menjemput anak ke daycare," tutur Heggeness.

Baca Juga: Ibnu Khaldun, Sang Bapak Sosiologi Islam yang Mengurai Siklus Bangkit-Runtuhnya Negara Lewat 'The Muqaddimah'

Selain fleksibilitas yang hilang, masalah biaya dan akses penitipan anak ikut memperburuk situasi. Pada 2025, pendanaan federal untuk childcare berkurang drastis, membuat banyak pusat penitipan tutup atau menaikkan tarif.

Deportasi massal juga menambah tekanan, mengingat sekitar 20 persen tenaga kerja sektor ini berasal dari kalangan imigran.

Akibatnya, biaya pendidikan anak di AS yang sempat turun pada 2023–2024 kembali naik sejak akhir 2024, dengan kenaikan 3,3 persen di kuartal IV dan berlanjut sepanjang 2025.

"Banyak perempuan kini sulit membuat perhitungan biaya agar masuk akal," tukas Vogtman.***

Halaman:

Tags

Terkini