Tingkat partisipasi mereka turun dari 70,3 persen pada September 2024 menjadi 67,7 persen pada Juli 2025.
"Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas hilang," kata Vogtman.
Ia menambahkan, riset menunjukkan kerja jarak jauh membantu perempuan tetap bertahan di dunia kerja.
"Perempuan masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan. Ketika beban ini tak lagi seimbang dengan pekerjaan, mereka lebih mungkin mundur dibanding pria," tuturnya.
Sebuah studi Survei Walr pada 2024 menemukan adanya eksodus karyawan senior di perusahaan seperti Microsoft, SpaceX, dan Apple setelah kebijakan ini diterapkan.
Kondisi tersebut dinilai mengancam daya saing perusahaan, dengan hampir dua pertiga eksekutif C-suite mengakui bahwa kebijakan baru memicu keluarnya banyak perempuan, memperburuk rekrutmen, dan menurunkan produktivitas.
"Kebanyakan keputusan ini datang dari orang-orang yang punya 'privilege' karena mereka punya orang yang suka memasak, menyetrika, atau menjemput anak ke daycare," tutur Heggeness.
Selain fleksibilitas yang hilang, masalah biaya dan akses penitipan anak ikut memperburuk situasi. Pada 2025, pendanaan federal untuk childcare berkurang drastis, membuat banyak pusat penitipan tutup atau menaikkan tarif.
Deportasi massal juga menambah tekanan, mengingat sekitar 20 persen tenaga kerja sektor ini berasal dari kalangan imigran.
Akibatnya, biaya pendidikan anak di AS yang sempat turun pada 2023–2024 kembali naik sejak akhir 2024, dengan kenaikan 3,3 persen di kuartal IV dan berlanjut sepanjang 2025.
"Banyak perempuan kini sulit membuat perhitungan biaya agar masuk akal," tukas Vogtman.***