gaya-hidup

Fenomena Joki Strava di Indonesia, Bayar Pelari demi Pamer Catatan Lari Fantastis di Media Sosial

Rabu, 13 Agustus 2025 | 07:20 WIB
Platform Strava, pelacak aktivitas olahraga yang mewarnai tren baru di Indonesia. (Tangkap layar Google Play)

 

Mediapriangan.com - Fenomena unik sedang mewarnai komunitas pelari di Indonesia. Platform pelacak aktivitas olahraga Strava, yang biasanya digunakan untuk memantau progres latihan dan mencatat rekor pribadi, kini menghadirkan tren baru yang tak lepas dari sorotan: joki Strava.

Istilah ini merujuk pada orang yang dibayar untuk berlari menggantikan pemilik akun demi menghasilkan catatan waktu dan jarak tempuh yang impresif.

Hasil lari tersebut kemudian diunggah di profil Strava, seolah-olah dilakukan oleh pemilik akun asli.

Baca Juga: Susu Nabati Kian Jadi Tren Gaya Hidup, Buka Peluang Bisnis UMKM dari Bahan Lokal hingga Inovasi Global

“Sayangnya, pengaruh media sosial membuat sebagian orang mencari jalan pintas untuk terlihat hebat di mata publik,” tulis The Running Week, Selasa, 12 Agustus 2025.

Bagi sebagian orang yang sibuk, cedera, atau kehilangan motivasi, menyewa joki dianggap cara cepat untuk tetap eksis di dunia lari digital.

Terlebih, kompetisi virtual dan tantangan daring sering memberikan hadiah atau pengakuan publik bagi pemenang, membuat reputasi digital terasa sama berharganya dengan prestasi nyata.

Baca Juga: Fadli Zon Harap Film Animasi Merah Putih: One For All Jadi Pemicu Nasionalisme, Singgung Sukses Jumbo

Namun, tren ini memunculkan perdebatan etis. Lari adalah olahraga yang menjunjung pencapaian pribadi dan kerja keras.

Menggunakan jasa joki berarti mengaburkan esensi olahraga tersebut sekaligus merusak keadilan kompetisi di Strava, karena papan peringkat dan rekor pribadi tak lagi mencerminkan kemampuan asli.

Fenomena ini bahkan sudah ada contoh nyatanya di Indonesia. Seorang remaja berusia 17 tahun berinisial S, dengan akun @Satzzyy, menawarkan jasa joki lari dengan tarif Rp10.000 per kilometer untuk kecepatan 4:00 menit/km dan Rp5.000 per kilometer untuk kecepatan 8:00 menit/km.

Baca Juga: Goh Cheng Liang, Pendiri Wuthelam dan Pemilik Mayoritas Nippon Paint Meninggal Dunia di Usia 98 Tahun

Dari pekerjaan terbesarnya, ia pernah meraup sekitar Rp100.000, setara lebih dari 5 persen upah minimum bulanan di Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini