Kisah Sir Arthur Conan Doyle, Otak di Balik Sherlock Holmes yang Karyanya Tetap Hidup Seabad Lebih

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 13 Agustus 2025 | 06:19 WIB
Sir Arthur Conan Doyle, penulis buku detektif terbaik sepanjang masa berjudul “Sherlock Holmes”.  (X.com/BoylanRoger)
Sir Arthur Conan Doyle, penulis buku detektif terbaik sepanjang masa berjudul “Sherlock Holmes”. (X.com/BoylanRoger)

 

Mediapriangan.com - Sir Arthur Conan Doyle, nama yang tak pernah lepas dari sosok detektif legendaris Sherlock Holmes, adalah salah satu penulis yang karyanya mampu melampaui batas zaman.

Lebih dari seabad sejak karakter ciptaan Sir Arthur Conan Doyle lahir, Holmes tetap hidup di hati para pembaca dan terus menginspirasi dunia sastra modern.

Tak hanya menulis kisah sang detektif jenius, Sir Arthur Conan Doyle juga dikenal produktif dalam berbagai genre. Ia menghasilkan novel fiksi, non-fiksi, hingga puisi.

Baca Juga: AS dan China Sepakat Perpanjang Gencatan Perang Dagang 90 Hari, Tarif Baru Ditangguhkan hingga November 2025

Di luar Sherlock Holmes, karyanya yang populer antara lain The Mystery of Cloomber (1889), The Stark Munro Letters (1895), dan The Great Boer War (1900).

Karya-karya ini membuktikan kemampuannya meramu cerita misteri yang memancing rasa penasaran sekaligus menulis narasi sejarah yang kaya detail.

Doyle juga meninggalkan warisan berupa kata-kata bijak yang hingga kini sering dikutip. Salah satunya berbunyi:

Baca Juga: Budi Gunawan Pastikan Pemerintah Pantau Kasus Prada Lucky Namo, Singgung Soal Disiplin dan Kehormatan Prajurit

"When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth" — kutipan dari penulis buku Sherlock Holmes yang mengajarkan logika tajam dalam mencari kebenaran.

Lahir dengan nama lengkap Sir Arthur Ignatius Conan Doyle pada 22 Mei 1859 di Edinburgh, Skotlandia, Doyle dibesarkan dalam lingkungan yang dekat dengan seni dan sastra.

Meski begitu, jalur pendidikannya sempat jauh dari dunia kepenulisan. Ia bersekolah di Jesuit School, Lancashire, Inggris, selama tujuh tahun sejak 1868, kemudian melanjutkan studi di Feldkirch, Austria, sebelum kembali ke Edinburgh.

Baca Juga: Viral Pidato Rabi Ronen Shaulov Serukan Anak-anak Gaza Mati Kelaparan, Publik Dunia Bereaksi Keras!

Pengabdiannya tak berhenti di ranah sastra. Pada 1902, ia menerima gelar bangsawan “Sir” sebagai penghargaan atas jasanya di bidang kemanusiaan, termasuk kontribusinya di rumah sakit Bloemfontein, Afrika Selatan, saat Perang Boer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X