Usai pensiun, Simon tak jauh dari dunia si kulit bundar. Ia menjadi pelatih muda di berbagai akademi, termasuk Ajax, Standard Liege, Germinal Beerschot, hingga Al Ahli di Arab Saudi.
Sejak 2015, ia juga mengelola Simon Tahamata Soccer Academy, lembaga pelatihan yang fokus pada pengembangan pemain muda.
Kiprah panjang dan dedikasinya dalam membina generasi muda menjadi alasan kuat PSSI mempercayakan posisi strategis ini kepadanya.
Kembali untuk Tanah Leluhur
Tak hanya ditunggu oleh PSSI, kedatangan Simon juga disambut hangat oleh para penggemar sepak bola Indonesia.
Ia sendiri menyatakan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari masyarakat dan menyatakan siap bekerja keras bersama staf pelatih Timnas Indonesia.
“Terima kasih atas semua pesan baik yang saya terima. Saya sangat menantikan bekerja bersama coach Patrick Kluivert dan staf teknis di Indonesia,” ujar Simon.
Ia dijadwalkan akan tiba di Indonesia pada akhir Mei 2025 dan langsung memulai tugasnya dalam pemantauan dan pembinaan pemain muda.
Penghormatan dari Ajax
Nama Simon Tahamata tetap harum di kalangan suporter Ajax. Pada 3 Maret 2025 lalu, ia mendapat penghormatan spesial di Stadion Johan Cruyff menjelang laga kontra Utrecht.
Spanduk bertuliskan “Oom Simon, Terima Kasih” terbentang luas di tribun, menandakan betapa besarnya cinta dan penghargaan publik Amsterdam padanya.
Penunjukan Simon menjadi langkah baru dalam perjalanan sepak bola Indonesia, dengan harapan hadirnya sistem pencarian bakat yang lebih modern dan kompetitif, serta regenerasi Timnas yang lebih solid ke depannya.***