KOREA, Mediapriangan.com - Kegagalan Red Sparks di Liga Voli Korea musim 2025-2026 menjadi sorotan tajam, terutama mengarah kepada pelatih Ko Hee Jin yang dinilai belum mampu menjaga performa tim tetap kompetitif.
Kondisi ini semakin menguatkan anggapan bahwa absennya Megawati Hangestri memberikan dampak besar bagi kekuatan tim. Red Sparks mengakhiri musim di posisi terbawah dengan catatan 8 kemenangan dari 36 pertandingan.
Hasil ini menjadi pukulan telak bagi Ko Hee Jin, mengingat pada musim sebelumnya Red Sparks mampu melaju hingga final Liga Voli Korea dengan komposisi tim yang lebih solid.
Penurunan performa Red Sparks tidak lepas dari kegagalan menemukan pengganti sepadan untuk Megawati Hangestri. Meski manajemen telah mendatangkan Elisa Zanette, kontribusinya dinilai belum mampu mengisi kekosongan peran penting tersebut.
Keputusan mengakhiri kontrak dengan Zanette pun mempertegas bahwa strategi Ko Hee Jin dalam membangun ulang kekuatan tim belum berjalan efektif.
Red Sparks juga mencoba opsi lain melalui pemain kuota Asia seperti Wipawee Srithong dan Jamiyanpurev Enkhsoyol, namun hasilnya belum sesuai harapan.
Baca Juga: Megawati Hangestri Ziarah di Lebaran 2026 Jelang Final Four Proliga 2026, Momen Haru Jadi Sorotan
Dalam laga terakhir musim ini, Red Sparks kembali menunjukkan inkonsistensi. Mereka kalah 1-3 dari AI Peppers di Gwangju. Padahal pertandingan sempat berjalan seimbang sebelum akhirnya lawan mampu mengunci kemenangan di momen krusial.
Ko Hee Jin juga sempat memberikan kesempatan kepada Inkushi, pemain yang masuk menggantikan Wipawee yang cedera. Namun performanya belum cukup untuk membawa perubahan signifikan bagi Red Sparks di Liga Voli Korea.
Sepanjang musim, Inkushi mencatatkan 104 poin dari 17 pertandingan dengan tingkat keberhasilan serangan 32,65 persen.
Baca Juga: 12 Jadwal Final Four Proliga 2026 Putri, Lengkap dengan Skema Pertandingan Menuju Grand Final
Angka ini menunjukkan bahwa Red Sparks masih mengalami kendala dalam sektor penyerangan sejak ditinggal Megawati Hangestri.