Wilayah Seongnam di Provinsi Gyeonggi, yang kebetulan merupakan lokasi kantor pusat SOOP, kini mencuat sebagai kandidat kuat domisili baru bagi tim tersebut.
Di sisi lain, publik lokal sangat berharap agar aset olahraga kebanggaan mereka tidak angkat kaki dari wilayah barat daya tersebut.
Mempertahankan basis di Gwangju dinilai memiliki kalkulasi bisnis yang jauh lebih menjanjikan daripada harus membangun segalanya dari nol di tempat baru.
Kendati klub memiliki catatan performa yang kurang impresif di papan bawah klasemen sejak pertama kali didirikan, loyalitas pendukung mereka sangat luar biasa.
Sepanjang musim lalu di Liga Voli Korea, rata-rata kehadiran penonton di stadion mencapai 2.500 orang per pertandingan, sebuah angka fantastis yang mampu menyaingi klub-klub papan atas.
Fasilitas mumpuni yang disediakan pemerintah daerah juga menjadi poin plus yang sulit diabaikan.
Pemerintah kota Gwangju sebelumnya telah menyulap Kompleks Olahraga Yeomju menjadi arena modern bernama Stadion Lada, lengkap dengan potongan biaya sewa hingga 80 persen untuk meringankan beban operasional.
Dukungan administratif ini bahkan berpotensi semakin kuat seiring dengan rencana peluncuran wilayah integrasi khusus Jeonnam-Gwangju pada tanggal 1 Juli mendatang.
Bagi perusahaan seperti SOOP, mengamankan pasar yang sudah matang di wilayah ini dianggap sebagai keputusan yang jauh lebih rasional ketimbang menghadapi risiko infrastruktur di daerah baru.
Ekspansi SOOP ke kancah voli profesional dipandang sebagai upaya memperkuat dominasi mereka setelah sebelumnya sukses mengelola siaran olahraga elektronik dan biliar.
Mengingat popularitas tim voli putri yang sedang meroket di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, investasi di kompetisi ini juga membuka peluang ekspansi global yang sangat menjanjikan.
Meski demikian, kepastian akhir mengenai klausul kontrak dan lokasi markas tetap harus menunggu pernyataan resmi dari para pihak yang terlibat.***