Mediapriangan.com - Artificial Intelligence (AI) kini semakin menjadi pusat perhatian dalam berbagai aspek, termasuk dalam kampanye politik menjelang Pilkada 2024.
AI, yang mampu melakukan berbagai tugas kompleks seperti pengenalan wajah, analisis data, dan bahkan pembuatan konten kreatif, kini dimanfaatkan oleh partai-partai politik untuk memperkuat strategi kampanye politik mereka.
AI generatif, seperti model GPT-3, DALL-E, dan Copilot, memungkinkan pembuatan konten kampanye politik yang tidak hanya sesuai dengan data yang ada, tetapi juga disesuaikan dengan karakteristik dan preferensi pemilih yang ditargetkan.
Teknologi ini memungkinkan para kandidat untuk menghasilkan bahan kampanye yang inovatif, hemat waktu, dan efisien dalam penggunaan sumber daya.
Sebagai contoh, dalam Pilkada 2024, penggunaan AI diharapkan mampu menarik perhatian pemilih, khususnya generasi muda, yang dikenal lebih adaptif terhadap teknologi.
Salah satu contoh nyata penggunaan AI dalam kampanye politik terlihat dalam Pilpres 2024, di mana pasangan Prabowo-Gibran menggunakan teknologi AI untuk menciptakan citra kampanye yang lebih menarik bagi pemilih muda.
Melalui AI, pasangan ini menghasilkan foto dan video yang menampilkan wajah mereka dalam versi anak-anak, menciptakan kesan 'gemoy' yang berbeda dari citra tegas dan berwibawa yang selama ini melekat pada Prabowo.
Langkah ini menunjukkan bagaimana AI bisa mengubah citra kandidat secara signifikan di mata publik.
Tidak hanya itu, Partai Golkar juga memanfaatkan teknologi deepfake untuk 'menghidupkan kembali' mendiang Presiden Soeharto dalam salah satu kampanye mereka.
Dengan menggunakan AI, mereka menciptakan video yang memperlihatkan Soeharto menyerukan partisipasi publik dalam pemilu, dengan tujuan mengingatkan kejayaan Orde Baru dan meningkatkan elektabilitas partai tersebut.