Kamar-kamarnya dilengkapi kamar mandi marmer, Wi-Fi gratis, televisi kabel, kulkas mini, serta alat pembuat teh dan kopi. Beberapa tipe kamar yang lebih tinggi juga menyediakan televisi layar datar dan kamar mandi berdinding kaca.
Sementara itu, suite berkelas dilengkapi pemutar DVD dan ruang keluarga. Untuk suite dua kamar tidur tersedia fasilitas tambahan seperti microwave dan bak mandi whirlpool. Layanan kamar juga tersedia selama 24 jam.
Hotel Savoy Homann Bandung menawarkan sarapan dan area parkir gratis. Fasilitas lainnya meliputi restoran di atrium yang dipenuhi pohon palem, kafe yang buka 24 jam, bar dengan hiburan musik, serta kolam renang indoor.
Baca Juga: Kedai Kopi Lim Cianjur Jadi Hidden Gem Favorit Gen Z, Suasana Bali di Puncak Bikin Betah
Salah satu fakta menarik dari hotel bersejarah di Bandung ini adalah pernah digunakan sebagai tempat menginap para delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
Beberapa tokoh penting yang pernah menginap di sini antara lain Gamal Abdel Nasser, Zhou Enlai, Jawaharlal Nehru, Soekarno, Sir John Kotelawala, dan sejumlah delegasi Konferensi Asia Afrika lainnya.
Kata Savoy sendiri berarti megah, sedangkan Homann merupakan nama pemilik pertama hotel ini. Meski telah berdiri sejak lama, hotel bintang 4 ini tidak terkesan tua karena telah beberapa kali menjalani renovasi.
Hotel Savoy Homann Bandung memiliki tiga lantai dengan total 185 kamar.
Baca Juga: Dumuk Bareto Bandung, Wisata Kuliner Bernuansa Kampung Sunda yang Asri di Tengah Kota
Hotel ini juga memiliki tiga restoran yang berada di area lantai dasar. Sidewalk Resto yang berada di sisi kanan lobi mengusung konsep fine dining western food.
Di sisi kiri lobi terdapat Batavia Cafe dengan pemandangan langsung ke kawasan Jalan Asia Afrika. Sementara Garden Restaurant menjadi tempat utama bagi tamu untuk menikmati sarapan.
Di lobi hotel terdapat sebuah piano yang konon pernah digunakan Charlie Chaplin saat menginap di hotel ini.
Selain itu, terdapat pula golden book yang berisi tanda tangan dan komentar dari para tamu negara saat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955.