BANYUWANGI, Mediapriangan.com - Antrean kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk, Banyuwangi, Jawa Timur, dalam sebulan terakhir menjadi perhatian pengamat transportasi. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan pengaturan operasional yang lebih efisien agar pergerakan kendaraan tidak semakin tersendat.
Pengamat transportasi sekaligus alumnus Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ali Ruchi, menilai persoalan utama tidak semata-mata berada pada jumlah kapal yang tersedia.
Menurutnya, armada yang saat ini beroperasi perlu dioptimalkan melalui peningkatan jumlah trip dan pengurangan waktu kapal berada di dermaga. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan pergerakan kapal tanpa harus langsung menambah kapal berukuran besar.
Salah satu skenario yang ditawarkan yakni meningkatkan operasional hingga sembilan trip untuk setiap kapal. Pada saat yang sama, durasi bongkar muat di dermaga MB diusulkan dipangkas dari rata-rata delapan menit menjadi enam hingga tujuh menit.
Sementara di dermaga LCM, waktu bongkar muat dapat ditekan menjadi sekitar 10 hingga 11 menit.
"Skenario ini dirancang untuk memangkas turnaround time kapal, sehingga jumlah total pergerakan atau trip harian otomatis meningkat tanpa perlu memicu kepadatan baru di alur pelayaran, skema ini sudah pernah dilakukan pada sekitar tahun 2016 lalu saat LCT dilarang beroperasi,” terang Ali, Jumat (18/9/2026).
Menurut Ali, optimalisasi waktu operasional menjadi bagian penting untuk mengurai antrean kendaraan yang terjadi di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Baca Juga: Rumah ASN di Cileunyi Digerebek, Polisi Temukan 36 Pohon Ganja hingga Tanaman Berusia 4 Bulan
Penambahan Kapal Besar Dinilai Belum Cukup
Upaya menambah kapal berkapasitas besar sebenarnya telah dilakukan ASDP melalui pengoperasian kapal Portlink dan Jatra. Namun, menurut Ali, penambahan armada tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak diikuti peningkatan frekuensi perjalanan.
Ia juga menilai kapasitas kapal yang beroperasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan angkutan kendaraan, termasuk kendaraan dengan muatan 50 ton ke atas.
"Kehadiran kapal berukuran sangat besar berpotensi menyita alokasi waktu sandar dan ruang alur, yang justru memangkas frekuensi trip kapal-kapal kecil dan sedang yang selama ini beropeasi di alur penyeberangan ketapang gilimanuk,” tambah Mantan Kepala Seksi Perhubungan Laut dan Udara Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi tersebut.
Artikel Terkait
Fenomena Telur Ceplok Muncul di Kawah Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan soal Genangan Air Bercampur Belerang
Arief Arseha Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Kabupaten Tasikmalaya
Rana Nur Alamsyah Kembali Nahkodai Indoboxing Tasikmalaya, Diky Chandra Kukuhkan Pengurus Periode 2026-2030
Pria Penendang Wanita di Food Court Senayan City Ditangkap, Polisi Masih Usut Motif di Balik Aksi Viral
Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Wafat di Usia 81 Tahun, Ini Profil, Pendidikan dan Jejak Kariernya
500 Warga Bener Meriah Aceh Patungan Rp80 Juta, Bangun Jalan Rusak yang Jadi Akses Vital 14 Desa