Baca Juga: Sherina Munaf Turut Terjun Padamkan Karhutla Kalteng, Cerita Asap Tebal sampai Masuk Pesawat
"Kami sangat menyayangkan Sampurna tidak dapat diselamatkan," tutur Murlan.
"Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," imbuhnya.
Nekropsi Ungkap Kondisi Sejumlah Organ
Untuk mengetahui kondisi tubuh sekaligus mencari faktor yang mungkin berkaitan dengan kematian Sampurna, BKSDA Kalbar melakukan nekropsi pada Selasa, 1 September 2026.
Pemeriksaan tersebut menemukan perubahan patologis pada beberapa organ vital. Perubahan paling menonjol ditemukan pada paru-paru, jantung, dan ginjal.
Baca Juga: Pelepasan Damkar Kalteng Disorot di Tengah Karhutla, Seremoni Gubernur Agustiar Picu Kritik Publik
Temuan pada organ pernapasan menjadi salah satu perhatian dalam pemeriksaan terhadap Sampurna.
"Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial, terutama pada bagian caudoventral kedua lobus paru-paru," ungkap Murlan.
Berdasarkan riwayat kondisi klinis yang dimiliki satwa tersebut, perubahan pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla. Kondisi itu dinilai dapat mengganggu fungsi pernapasan.
"Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya," tandas Murlan.
Baca Juga: Karhutla Lintang Batang Makin Dekat ke SPBU, Warga Buka Posko Makan Gratis untuk Pemadam Kebakaran
Karhutla Ketapang Berdampak pada Satwa
Kasus Sampurna memperlihatkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak. Satwa yang hidup di habitat hutan juga menghadapi ancaman ketika kebakaran dan asap meluas.
Di Ketapang, Sampurna ditemukan dalam kondisi kritis ketika berada di sekitar area perkebunan warga. Evakuasi dilakukan setelah masyarakat melihat orang utan tersebut tidak mampu berdiri dan mengalami gangguan pernapasan.