daerah

Kabut Asap Palembang Makin Parah, ISPU Tembus 1.203, Warga Mengeluh Sulit Bernapas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:20 WIB
Kondisi Palembang yang diselimuti kabut asap karhutla pada 10 Oktober 2026. (Threads/turning_poin)

 

PALEMBANG, Mediapriangan.com - Keluhan warga tentang sulitnya mendapatkan udara bersih kembali bermunculan di media sosial saat kabut asap menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan, dengan kualitas udara yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Salah satu unggahan di Threads memperlihatkan kondisi Palembang pada pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB. Pengunggah juga membagikan tangkapan layar Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang menunjukkan angka 1.203.

“Inilah kondisi pagi ini, 10 Oktober 2026 di Palembang jam 06.30 WIB dengan jarak pandang ya begitulah,” tulis akun Threads @turning_poin.

Baca Juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, Tema Pengalaman Hidup Didengar dan Maknanya, Simak Sejarahnya

Angka tersebut jauh melampaui ambang kategori berbahaya. Berdasarkan keterangan Kementerian Lingkungan Hidup yang dicantumkan dalam informasi tersebut, ISPU kategori baik berada pada rentang 0-50, sedangkan kategori berbahaya dimulai pada angka di atas 300.

Kondisi kabut asap Palembang juga memicu kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Keluhan serupa disampaikan pengguna Threads yang menyebut kawasan KM 10 mengalami krisis udara segar.

“Tolong!! Daerah KM 10 krisis udara segar, nak bernapas aja harus ngehirup asap pekat ini. Palembang benar-benar darurat. Ini Sabtu,10 Oktober 2026,” tulis akun @nes****i.

Baca Juga: Viral Video Asusila 13 Menit 3 Detik Diduga Libatkan Mahasiswi, Poltekkes Bandung Bantah Lewat Verifikasi Seragam

Warga lainnya mengaku telah menghirup udara tercemar selama lebih dari tiga bulan. Ia menyebut dua pekan terakhir sebagai periode terparah yang dirasakannya.

“Sabtu 10 Oktober 2026. 2 minggu terakhir terparah, kalau ga bisa atasin sendiri kenapa ga minta bantuan luar. Apa yang di atas sana paru-parunya dari besi ya? Kami ini hirup udara kotor udah 3 bulan lebih Pak,” tulis akun @cin*****a.

Akun tersebut juga menyoroti kondisi kelompok rentan yang dinilai lebih berisiko terdampak pencemaran udara.

“Kasihan yang balita, anak-anak, bumil dan lansia, yang dewasa aja udah megap-megap. Terburuk sepanjang masa ini,” imbuhnya.

Halaman:

Tags

Terkini