JAKARTA, Mediapriangan.com - Rencana kenaikan Batas Investasi Saham hingga 20 persen per emiten bagi industri asuransi dan dana pensiun dinilai membuka ruang fleksibilitas baru dalam pengelolaan portofolio.
Namun, IFG Progress mengingatkan bahwa perluasan tersebut tidak boleh dilepaskan dari penguatan Manajemen Risiko dan tata kelola investasi yang ketat.
Kepala IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman, menilai kebijakan peningkatan Batas Investasi Saham sejalan dengan upaya memperdalam pasar keuangan domestik serta memperkuat peran investor institusional jangka panjang. Meski demikian, setiap tambahan ruang investasi harus diimbangi sistem pengawasan yang disiplin.
Baca Juga: Wadirut MIND ID Dorong Indonesia Naik Kelas, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Hilirisasi
“Fleksibilitas investasi memang penting untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan jangka panjang. Namun, setiap ruang fleksibilitas harus diimbangi dengan penguatan governance, seleksi aset yang ketat, serta pengelolaan risiko berbasis profil liabilitas masing-masing institusi,” ujarnya.
IFG Progress menekankan bahwa Manajemen Risiko menjadi faktor kunci, terutama di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Walaupun saham berkapitalisasi besar dan likuid relatif lebih stabil, peningkatan Batas Investasi Saham hingga 20 persen tetap berpotensi menimbulkan konsentrasi risiko, khususnya di pasar berkembang yang sensitif terhadap sentimen nonfundamental.
Baca Juga: AFTECH, Easycash, dan IARFC Luncurkan MOJANG, Perkuat Literasi Keuangan dan Reputasi Kredit Gen Z
Karena itu, IFG Progress mendorong agar penetapan saham yang memperoleh batas lebih tinggi tidak hanya mempertimbangkan aspek likuiditas, tetapi juga kualitas tata kelola emiten, konsistensi kinerja keuangan, serta transparansi informasi.
Pendekatan ini penting untuk memastikan Manajemen Risiko berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian.
Selain itu, IFG Progress kembali menggarisbawahi pentingnya prinsip asset liability matching sebagai fondasi utama pengelolaan investasi asuransi dan dana pensiun.
Baca Juga: Giulia Angelina Siap Debut, Misi Berat Bandung BJB Tandamata di Proliga 2026 seri Bojonegoro
Tujuan utama lembaga tersebut adalah menjamin kecukupan aset untuk memenuhi kewajiban, bukan semata mengejar imbal hasil tinggi. Perbedaan karakter liabilitas antar entitas menuntut strategi investasi yang spesifik dan terukur.
Dalam praktiknya, asuransi umum cenderung menerapkan kebijakan konservatif karena kewajiban jangka pendek dan kebutuhan likuiditas tinggi untuk pembayaran klaim.
Artikel Terkait
IFG Synergy Day 2025, Wujud Nyata Semangat Sinergi, Empati, dan Pelayanan Sepenuh Hati
IFG Synergy Day 2025 Dorong Pertumbuhan UMKM Binaan, Bukti Nyata Sinergi dan Dampak Ekonomi Positif
IFG Peringati Hari Pahlawan 2025, Tanamkan Semangat Kepahlawanan dalam Transformasi Perusahaan
IFG Dorong Industri Asuransi Berbasis Riset untuk Tingkatkan Inklusi dan Relevansi Layanan
Transformasi Digital IFG Antar Hexana Raih Infobank CEO of The Year 2025
IFG Journalists Photo Journey 2026 Diluncurkan, Angkat Kisah Pelayanan lewat Kampanye Melayani Sepenuh Hati
IFG Gelar Upacara Hari Bela Negara 2025, Tegaskan Transformasi dan Komitmen Pelayanan Publik
Perlindungan Masyarakat Diperkuat Jelang Nataru 2025 2026, IFG Siagakan Layanan Terpadu
IFG Corporate University Raih Akreditasi EFMD CLIP, Indonesia Financial Group Diakui Global dalam Lima Tahun
Literasi Asuransi Digencarkan, IFG Dorong Mitigasi Risiko Nasional di Tengah Ancaman Bencana