Selain biaya produksi, kelangkaan emas juga mempengaruhi nilai pasarannya. Supply yang terbatas diimbangi oleh demand tinggi, membuat harga emas cenderung naik dalam jangka panjang.
Hal yang sama, kata Oscar, juga berlaku untuk Bitcoin. Meski bersifat digital, Bitcoin tetap membutuhkan biaya besar untuk mining atau penciptaannya.
"Bitcoin itu untuk setiap satu bitcoin yang tercipta itu ada biaya listriknya, biaya untuk menciptakan satu Bitcoin hampir mencapai 25.000 USD (sekitar Rp408 juta)," paparnya.
Ia menambahkan bahwa biaya tersebut belum termasuk pembelian perangkat mining dan infrastruktur pendukung lainnya.
"Itu belum terkait biaya beli alat mining-nya, infrastruktur lain yang menambahkan ke dalam biayannya itu," tukasnya.
Dengan perbandingan ini, banyak pihak mulai menganggap Bitcoin sebagai “emas digital” yang dapat menjadi alternatif investasi. Namun, Oscar menegaskan pentingnya memahami risiko masing-masing aset.
Baik emas maupun Bitcoin, meskipun dianggap aman, memiliki volatilitas harga yang perlu diperhitungkan para investor.
Di tengah perkembangan teknologi dan pergeseran tren ke arah digitalisasi aset, diskusi mengenai emas vs Bitcoin sebagai safe haven tampaknya akan terus bergulir.***