Mediapriangan.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia tetap mencatatkan hasil positif sepanjang Januari–Juli 2025.
Neraca perdagangan RI berhasil membukukan surplus sebesar Rp362,8 triliun, memperpanjang rekor surplus beruntun selama 63 bulan terakhir.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menuturkan bahwa capaian tersebut sebagian besar ditopang oleh ekspor nonmigas.
Baca Juga: Deflasi Agustus 2025 Tembus 0,08 Persen, Inflasi Tahunan Masih Aman di Level 2,31 Persen
"Surplus sepanjang Januari hingga Juli 2025 ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar US$34,06 miliar (Rp522,8 triliun)," kata Pudji dalam konferensi pers virtual, Senin, 1 September 2025.
Meski demikian, komoditas migas masih menyumbang defisit senilai US$10,41 miliar atau setara Rp159,7 triliun.
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat tercatat sebagai penyumbang surplus terbesar dengan nilai Rp160,6 triliun. Posisi berikutnya ditempati India sebesar Rp123,8 triliun dan Filipina Rp78,2 triliun.
"Tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah AS sebesar US$10,49 miliar (Rp161 triliun), kemudian India US$8,09 miliar (Rp124,1 triliun), berikutnya Filipina US$5,11 miliar (Rp78,4 triliun)," beber Pudji.
Jika ditinjau berdasarkan komoditas, lemak dan minyak hewan/nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai Rp294,3 triliun.
Selain itu, bahan bakar mineral Rp236,7 triliun, besi dan baja Rp163,7 triliun, nikel Rp73,0 triliun, serta alas kaki Rp57,7 triliun juga menopang kinerja perdagangan.
Baca Juga: AI Kini Jadi Alat Wajib Pekerja Remote, Bantu Produktivitas, Atur Jadwal, dan Ringankan Beban Kerja
Meski surplus masih terjaga, sejumlah komoditas tetap mengalami defisit, antara lain mesin dan peralatan mekanis Rp240,2 triliun, mesin elektrik Rp97,3 triliun, serta plastik Rp67,2 triliun.
Dari sisi negara, defisit terdalam tercatat dengan China Rp184,5 triliun, disusul Singapura Rp52,2 triliun, dan Australia Rp48,3 triliun.