Sejarah Kelom Geulis, Kerajinan Khas Tasikmalaya yang Mendunia

photo author
Asep Budi Karyana, Media Priangan
- Sabtu, 8 Oktober 2022 | 19:22 WIB
Kelom geulis khas Tasikmalaya. (Tangkap layar Instagram.com/@kelomgeulis)
Kelom geulis khas Tasikmalaya. (Tangkap layar Instagram.com/@kelomgeulis)

Mediapriangan.comTasikmalaya adalah salah satu kota yang berada di provinsi Jawa Barat. Kota ini dijuluki Sang Mutiara dari Priangan Timur.

Selain dikenal sebagai daerah pariwisata, Tasikmalaya juga dikenal sebagai penghasil barang-barang kerajinan tradisional, diantaranya adalah kelom geulis khas Tasikmalaya.

Kelom diambil dari bahasa Belanda ‘kelompen’ yang artinya alas kaki yang dibuat dari kayu (Bakiak) untuk wanita. Sedangkan geulis berasal dari bahasa Sunda yang artinya cantik.

Baca Juga: Waspada 7 Penyakit yang Muncul Saat Musim Hujan, Salah satunya Leptospirosis

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kelom geulis berarti sandal kayu yang cantik.

Disebut kelom geulis karena tampilan alas kaki dari kayu tersebut tampak indah dengan cat warna-warni, ukiran motif-motif yang menarik, dan konon kaum wanita yang memakai alas kaki tersebut akan tampak cantik, anggun, dan mempesona.

Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, munculnya kerajinan kelom geulis dimulai lebih kurang pada tahun 1950 di wilayah Gobras.

Baca Juga: Cegah DBD, Penyakit yang Sering Muncul Saat Musim Hujan

Pada saat itu, ada seorang warga Gobras bernama Pohar, ada juga yang menyebutnya Ohir, bekerja sebagai buruh di sebuah tempat produksi sandal di Bandung.

Pada suatu ketika, Pohar dengan Suryo, Ujer, dan Acep Umar berembug untuk menciptakan sandal mentah dari kayu (kelom geulis bagian bawahnya) atau disebut bodasan.

Rencana tersebut berhasil diwujudkan oleh keempat orang itu berupa kelom geulis mentah yang polos atau tanpa ukiran.

Baca Juga: Tips Menjaga Kondisi Tubuh Saat Musim Hujan, Agar Tetap Sehat

Akan tetapi, untuk menyelesaikan kelom geulis mentah tersebut menjadi kelom yang siap pakai cukup sulit.

Lantaran tidak memiliki ilmu yang memadai untuk itu. Akhirnya mereka membawa produk tersebut ke Bandung untuk dijual dan ternyata laku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Asep Budi Karyana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X