Insiden bermula ketika Lodi mengajukan challenge di tengah reli yang sedang berlangsung, namun ia kemudian mengubah jenis challenge yang diminta.
Perubahan mendadak ini dinilai menghambat tugas petugas video challenge dalam menentukan posisi rekaman secara cepat, sehingga memicu ketegangan dan mengganggu ritme pertandingan.
Meskipun hukuman tersebut memberikan poin tambahan cuma-cuma bagi Jakarta Electric PLN Mobile, Lodi tetap bersikukuh pada sikap ekspresifnya sebagai bentuk proteksi terhadap integritas permainan anak asuhnya.
“Saya mencintai intensitas. Mungkin orang melihat saya terlalu ekspresif atau ‘over’ di pinggir lapangan, tapi itulah energi yang saya berikan kepada tim," kata Lodi.
"Kami percaya pada proses dan materi tim ini sejak hari pertama, dan malam ini mereka membuktikannya,” tegas Lodi dalam konferensi pers pasca-laga.
Ia menambahkan bahwa secara teknis, timnya tampil di atas rata-rata.
“Secara keseluruhan, para pemain tampil sangat bagus dan layak mendapat apresiasi. Kami juga mendapatkan banyak poin dari servis,” lanjutnya.
Menariknya, meskipun sempat tertinggal pasca-insiden holding ball tersebut, mentalitas juara skuad Jawa Timur ini tidak lantas runtuh.
Arnetta Putri, sang pengatur serangan, mengakui bahwa kepercayaan antar-pemain menjadi kunci mereka melewati tekanan mental di lapangan.
“Pertandingan ini tidak mudah secara mental, tapi pelatih meminta kami menikmati setiap reli. Kepercayaan diri kami muncul karena kami sudah sangat mengenal satu sama lain dalam tim ini,” tutur Arnetta.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi kubu lawan. Kapten Jakarta Electric PLN Mobile, Agustin Wulandari, mengakui timnya gagal memanfaatkan momentum "keuntungan" dari kartu merah lawan karena banyaknya kesalahan sendiri.
“Sebenarnya tim pelatih sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi Gresik Phonska Plus, tetapi hal itu tidak berjalan dengan baik. Kami melakukan banyak kesalahan, terutama penerimaan bola servis,” ungkap Agustin jujur.