Mediapriangan.com - Berbicara tentang kekayaan kuliner tradisional Bali, khususnya dari wilayah Jembrana, ada satu nama kue yang selalu punya tempat spesial di setiap momen sakral maupun santai: Jaja Bendu.
Jaja Bendu ini begitu melekat dengan identitas masyarakat Jembrana.
Dibungkus rapi menggunakan daun pisang, jaja bendu memiliki tampilan yang sederhana namun menyimpan makna mendalam, terutama dalam konteks spiritual dan budaya Bali.
Tak hanya sekadar sajian biasa, jaja bendu seringkali menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan, seperti Guru Piduka atau Bendu Piduka, yakni ritual yang dilakukan untuk memohon keselamatan umat manusia serta permohonan ampun kepada para leluhur atas segala kesedihan dan kemarahan.
“Jaja bendu merupakan kue tradisional khas dari Jembrana yang dibungkus dengan daun pisang.”
Perpaduan cita rasa manis dari ketan, kelapa parut, dan gula Bali menjadikan kue ini digemari berbagai kalangan.
Kelezatannya yang otentik membuat jaja bendu juga kerap dijadikan buah tangan oleh para wisatawan atau warga perantauan yang rindu akan kampung halaman.
Namun, berbeda dari kue kering yang tahan lama, jaja bendu memiliki masa simpan yang singkat.
Daun pisang memang menjaga tekstur agar tetap kering dan tidak mudah lembek, namun kue ini sebaiknya dikonsumsi dalam waktu singkat setelah dibuat agar rasanya tetap nikmat.
“Meski bisa dijadikan oleh-oleh, jaja bendu tak bisa bertahan lama hingga berhari-hari.”