Ini tuh sebenarnya makanan hasil survival warga zaman dulu yang enggak bisa beli daging murni.
Mereka akhirnya masak tulang belulang, iga dan kepala kambing dengan rempah super melimpah.
Dan experience makan di sini tuh justru ada di cara makannya.
Kalian enggak butuh sendok garpu, langsung aja pegang tulangnya pakai tangan, sebab kalian bisa gigitin daging dan urat yang nyelip di sela-sela tulangnya.
Kalian juga dapat menikmati sensasi menyeruput sumsumnya kencang-kencang.
Kuahnya ini kuning encer dengan rasanya pedas nendang, gurih serta kaldu kambingnya pekat, tapi ajaibnya enggak bau prengus sama sekali.
Berkeringat di tengah pasar sambil gigitin tulang iga ini kepuasannya level max.
Kuliner legendaris Solo memang punya banyak pilihan. Namun, tiga sajian tersebut menjadi gambaran bagaimana cita rasa khas Solo tetap bertahan dan menarik perhatian warga lokal maupun wisatawan.***