“Saya menyadari bahwa selama proses belajar di sekolah, terdapat satu metode pembelajaran yang seharusnya tidak diterapkan. Mungkin ini merupakan salah satu kesalahan signifikan dari para pendidik di masa lalu,” ungkap Galih sebagiamana dikutip dari laman LPDP.
Galih, yang berasal dari keluarga pendidik, awalnya enggan menjadi guru. Namun, jalur hidupnya terus membawanya ke dunia pendidikan.
Pengalamannya mengajar di lembaga pendidikan STEM membuka matanya terhadap ketidaksetaraan dalam akses pendidikan.
Galih menghadapi pandangan skeptis keluarganya yang menganggap menjadi guru PNS adalah puncak kesuksesan. Namun, ia membuktikan bahwa menjadi guru SD pun memerlukan pengetahuan yang luas.
“Sarjana pendidikan memang mengajar di sekolah. Jadi, menjadi guru PNS!” Galih menirukan respons keluarganya dengan senyum. Meskipun memahami pandangan tersebut, Galih justru berhasil membuktikan bahwa menjadi guru SD juga memerlukan bekal pengetahuan yang sangat luas," tegasnya.
Pendidikan, menurut Galih, memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, perdamaian, keadilan sosial, ekonomi, hingga pemenuhan hak asasi manusia.
Galih berhasil mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjadi langkah awal untuk mewujudkan visinya.
Keputusannya untuk mengejar gelar S-2 di luar negeri, meski awalnya dianggap sebagai mimpi yang ketinggian, membuktikan bahwa semangat dan tekadnya membawa hasil yang luar biasa.***