daerah

KPU Setujui Rano Karno Tambah Nama 'Si Doel' di Surat Suara Pilkada Jakarta, Tanda Pemilu Kini Perlu Daya Tarik Artis

Jumat, 27 September 2024 | 07:53 WIB
KPU menyetujui Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, untuk menambah nama 'Si Doel' dalam kertas suara untuk Pilkada 2024. (Instagram.com/@si.rano)

Fenomena penggunaan nama panggung di kalangan artis yang terjun ke politik kini semakin umum, karena dianggap mampu menarik perhatian publik.

Partai politik pun berharap pengusungan figur publik dalam pemilu dapat meningkatkan jumlah suara yang diperoleh.

Baca Juga: Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjar, Langkah Penting KPU Menuju Pilkada 2024

Berikut adalah beberapa partai politik yang mengusung artis di Pilkada 2024:

- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menjadi partai terbanyak yang mengusung artis, termasuk Krisdayanti, Rano Karno, dan Ronal Surapradja.

- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung Gilang Dirga dan Lucky Hakim yang berkoalisi dengan Partai Golkar.

- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendukung artis Gitalis Dwi Natalia (Gita KDI) dan Ritchie Ismail (Jeje Govinda), dengan dukungan dari PAN dan Gerindra.

Baca Juga: Dapat Nomor Urut 4, KDM Optimis, Pat-Pat Gulipat, Pilihan Warga Jawa Barat Tahun 2024, Nomor Empat Pasti Dapat!

Keterlibatan artis dalam politik ini mencerminkan strategi marketing politik yang berkembang menjelang Pilkada 2024.

Dalam bukunya yang berjudul 'Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas', Prof. Firmanzah dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menulis bahwa marketing politik adalah bidang ilmu yang masih baru, tetapi praktiknya sudah diterapkan dengan berbagai strategi.

Ia menegaskan bahwa para politisi, baik masa lalu maupun masa kini, memandang masyarakat sebagai pasar yang harus dikelola dan diperebutkan.

Baca Juga: KPU Kabupaten Ciamis Tetapkan Nomor Urut Pilkada 2024, Pasangan Herdiat-Yana Dapat Nomor 2, Siap Lanjutkan Pembangunan

Gagasan politik yang diusulkan oleh pemimpin partai perlu strategi agar bisa diterima dengan baik oleh publik.

Namun, ada juga kekhawatiran bahwa pendekatan marketing politik ini dapat menurunkan kualitas demokrasi, karena banyak partai yang mengandalkan popularitas tanpa mengedepankan ide atau gagasan yang jelas.

Meskipun popularitas artis menjadi aset berharga dalam pemilu, penting untuk mempertimbangkan bagaimana mereka akan memenuhi harapan masyarakat terhadap kinerja mereka.***

Halaman:

Tags

Terkini