Adapun gejala CVI meliputi pembuluh vena melebar (varises), rasa berat di kaki, pembengkakan kronis, perubahan warna kulit (hiperpigmentasi), dan luka kronis di pergelangan kaki (ulkus vena).
"Bila tidak ditangani, CVI dapat berkembang menjadi infeksi kulit hingga luka sulit sembuh," tegas Aa.
Untuk terapi CVI sambung Aa, dilakukan berdasarkan tingkat keparahan dan klasifikasi CEAP, yaitu terapi kompresi, obat flavonoid untuk memperbaiki tonus vena, skleroterapi, operasi open surgery seperti stripping, dan tindakan endovaskular modern: EVLA, RFA, atau glue.
"Perkembangan teknologi endovaskular membuat banyak pasien tidak perlu operasi besar. Perawatan lebih cepat, pemulihan lebih singkat,” ujar Aa.
Ia menegaskan, gejala seperti bengkak, varises, atau nyeri kaki berkepanjangan bukanlah kondisi ringan.
"Sering kali pasien datang sudah terlambat karena merasa hanya pegalpegal biasa. Padahal jika ditangani lebih awal, disini kami bisa mencegah komplikasi serius seperti ulkus vena atau emboli paru,” terangnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga pola hidup akti. Menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, jika mengalami gejala mencurigakan.***