daerah

Gedung Megah, Stok Darah Kerontang, Suara Miris dari BDRS RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya

Kamis, 11 Desember 2025 | 19:44 WIB
Krisis darah di RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat diminta tingkatkan kesadaran donor demi pemenuhan stok. (D. Farhan Kamil)

Baca Juga: Perkuat Thoriqoh Mu’tabarah, Pengurus Tiga Tingkatan JATMAN Kabupaten Tasikmalaya Resmi Dilantik

"Ini persoalan klasik rumah sakit, tapi sampai hari ini belum ada solusi konkret," kata dr. Nuria.

Tingginya kebutuhan membuat RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, rutin menggelar donor darah internal bagi pegawai setiap tiga bulan sekali, sekaligus membuka layanan donor untuk masyarakat umum.

"Dari kegiatan internal tersebut, rumah sakit mampu mengumpulkan 60–70 labu per kegiatan dan total 243 labu sepanjang 2024 lalu. Meski membantu, angka itu tetap jauh dari kebutuhan riil," ucapnya.

Baca Juga: Dari Zona ke Zona, GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Mantapkan Barisan dan Regenerasi Kader

Menurut dr. Nuria, idealnya UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya melakukan dropping minimal seminggu sekali, bahkan jika memungkinkan setiap hari.

Terlebih RSUD KHZ Musthafa ini merupakan rumah sakit terbesar di Kabupaten Tasikmalaya dan memerlukan suplai darah yang stabil.

"Kami berharap dropping dapat rutin, RSUD KHZ Musthafa ini rumah sakit terbesar. Idealnya pasokan darah datang minimal seminggu sekali," tegas dr Nuria.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan donor darah, tidak hanya demi kesehatan diri tetapi juga karena satu kantong darah bisa menjadi harapan hidup bagi pasien yang sedang berjuang.

Baca Juga: Wabup Tasikmalaya Kian Rajin Awasi Dapur MBG Sekalipun Dini Hari, Ada Apa?

"Donor darah itu menyambung nyawa. Kami sangat berharap kesadaran masyarakat meningkat," ujarnya.

Minimnya pasokan dari UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya yang berlokasi di wilayah Kota Tasikmalaya, membuat RSUD KHZ Musthafa terus berada dalam kondisi waspada.

Selama kebutuhan harian yang mencapai 20–30 labu belum terpenuhi secara rutin, stok darah kritis masih menjadi momok yang menghantui tenaga medis dan pasien.

"Tentu kita semua berharap, masalah ini tidak berlarut-larut menjadi isu tahunan. Sebab di balik setiap labu darah yang terlambat datang, ada nyawa yang ikut dipertaruhkan," kata dr. Nuria, menutup perbincangan.***

Halaman:

Tags

Terkini