Namun ketika stok kosong, petugas segera berkoordinasi dengan UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya. Proses dropping darah dilakukan secara ketat untuk menjaga kualitas dan memastikan darah tetap layak serta aman digunakan.
Dr. Nuria juga menanggapi pertanyaan masyarakat terkait biaya darah per labu yang kerap dipersoalkan. Ia menegaskan bahwa darah tidak diperjualbelikan. Biaya yang dibebankan kepada pasien merupakan Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD).
Baca Juga: Dokter Vaskular RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya Edukasi Warga Terkait Luka Kaki Menghitam
“Darah donor itu gratis. Yang ada adalah biaya pengolahan. Ada kantong darah, biaya teknis petugas, operasional, dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan darah bebas dari empat parameter utama yang tidak boleh lolos, yakni HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan ketentuan PMI pusat dan regulasi terbaru, biaya pengolahan darah saat ini mencapai sekitar Rp490 ribu per labu, meningkat dari sebelumnya Rp360 ribu, dan berlaku untuk berbagai jenis komponen darah seperti sel darah merah maupun trombosit.
Biaya tersebut mencerminkan proses panjang dan ketat yang harus dilalui demi keselamatan pasien.
Untuk menunjang mutu layanan, BDRS RSUD KHZ Musthafa didukung tenaga kesehatan yang memiliki Surat Izin Praktik dan sertifikat kompetensi, serta rutin mengikuti pelatihan dan webinar.
Dari sisi sarana dan prasarana, rumah sakit telah menyediakan bangunan khusus BDRS, ruang administrasi, ruang donor darah, laboratorium, alat penyimpanan bersuhu terkontrol, alat pemeriksaan golongan darah dan crossmatch, hingga sarana distribusi darah ke ruangan pasien.
Ke depan, RSUD KHZ Musthafa juga merencanakan pengembangan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS) di lantai dua gedung BDRS sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan mempercepat pelayanan transfusi.
Kinerja BDRS tercermin dari pemenuhan kebutuhan darah rumah sakit, tingkat kompatibilitas crossmatch yang tinggi, penanganan reaksi transfusi, serta kegiatan donor darah dan phlebotomy terapeutik yang terus berjalan.
Upaya berkelanjutan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan stok darah dan meningkatkan keselamatan layanan transfusi bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.
RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, terang Nuria Nirmala, menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan BDRS sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.***