BEKASI, Mediapriangan.com - Gelombang kemarahan dari puluhan pasangan kekasih yang gagal menikah kini berbuntut pada perburuan masal. Setelah insiden pesta pernikahan Feny dan Aldy yang terlantar di Islamic Center Bekasi pada Sabtu, 23 Mei 2026 menjadi viral, para korban lain mulai bergerak bersama.
Mereka berusaha melacak keberadaan manajemen agensi pernikahan tersebut, namun mereka hanya mendapati jejak kosong pemilik yang diduga sengaja melarikan diri sejak jauh hari.
Kekecewaan para korban kian berlipat ganda karena upaya hukum yang mereka tempuh tidak langsung berjalan mulus. Berdasarkan informasi dari para korban, laporan polisi sempat ditolak oleh pihak kepolisian saat mereka mendatangi markas Polres Jakarta Timur.
Baca Juga: Sunyi Tanpa Dekorasi, Pesta Pernikahan di Islamic Center Bekasi Gagal Total Akibat Ulah WO Marwah
Alasan penolakan tersebut dinilai tidak masuk akal oleh para korban karena mengacu pada administrasi tanggal nikah belum lewat yang tertera pada lembar kontrak kerja sama.
Massa yang terdiri dari rombongan calon pengantin ini sempat mendatangi tempat usaha, rumah tinggal, hingga gudang logistik milik agensi. Namun, di kantor dan rumah tinggalnya, warga sekitar menyebut lokasi itu sudah tidak berpenghuni sejak dua bulan terakhir.
Di lokasi gudang penyimpanan, para korban hanya menemukan tumpukan dekorasi, alat masak, pakaian pesta yang tergantung, serta ibu kandung dari terduga pelaku yang ditelantarkan bersama balita.
"Tadi kita udah samperin ke gudangnya Marwah Service, cuma ada ibu si owner dan anaknya 2 tahun yang ditinggal," ungkap salah satu korban melalui akun Threads @a.cheerfulgirl yang dikutip pada Minggu, 24 Mei 2026.
Baca Juga: Syukuran Persib Juara, Warga Tasikmalaya Pilih Bersih-Bersih SOR Kaliki daripada Konvoi
Kondisi yang memprihatinkan di lokasi tersebut membuat para korban merasa iba sekaligus geram karena sang pemilik seolah lepas tangan dari tanggung jawab hukum. "Anak itu ternyata anak angkatnya dan kita diarahkan untuk ke Polres Jakarta Timur doakan ya temen-temen," lanjutnya.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh sesama korban di ruang digital, jumlah pasangan yang terikat kontrak dengan agensi ini terus bertambah hingga mencapai lebih dari 30 pasangan. Total kerugian miliaran rupiah kini membayangi masa depan rencana pernikahan mereka yang sudah di ujung tanduk. Perwakilan korban melalui akun @maharcb membeberkan skala dampak finansial dari kasus ini.
"Kami semua calon korban sementara sudah 30+ catin dengan perkiraan kerugian Rp1,9 miiliar," tulisnya pada Minggu, 24 Mei 2026.