daerah

Bank Indonesia Tasikmalaya Luncurkan SINDANG PRIATIM Berbasis AI, Perkuat Pengendalian Inflasi di Priangan Timur

Kamis, 30 Juli 2026 | 20:28 WIB
Bank Indonesia Tasikmalaya bersama pemerintah daerah di wilayah Priangan Timur resmi meluncurkan pengembangan terbaru SINDANG PRIATIM pada, Kamis (30/7/2026). (Dok. AMS)

Pantau Harga, Pasokan hingga Operasi Pasar

Tak hanya memuat data harga harian, SINDANG PRIATIM kini juga menyediakan informasi mengenai neraca pangan, kondisi pasokan komoditas strategis, data surplus dan defisit antarwilayah, hingga pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang terintegrasi dengan peta digital.

Dengan fitur tersebut, pemerintah daerah dapat memantau kondisi pangan secara lebih menyeluruh, sementara masyarakat juga dapat mengetahui lokasi penyelenggaraan pasar murah melalui sistem digital yang tersedia.

"Informasi lokasi pasar murah dapat diakses masyarakat sehingga memudahkan mereka memperoleh informasi mengenai program stabilisasi harga di wilayah masing-masing," kata Azhar.

Baca Juga: TPID Banten Kunjungi Ciamis, Kerja Sama Cabai Jadi Strategi Pengendalian Inflasi Antar Daerah

Data Terintegrasi Jadi Kunci Pengendalian Inflasi

Menurut Azhar, tersedianya data yang akurat dan berkualitas merupakan faktor penting dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi.

Ia menegaskan, pengambilan keputusan membutuhkan informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui SINDANG PRIATIM, seluruh data dari berbagai daerah dihimpun dalam satu platform sehingga memudahkan identifikasi potensi tekanan harga sekaligus memperkuat koordinasi antarwilayah.

Dikembangkan Sejak 2024

SINDANG PRIATIM mulai dikembangkan oleh Bank Indonesia Tasikmalaya pada 2024 sebagai dashboard pemantauan harga pangan harian.

Baca Juga: TPID Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Mitigasi El Nino, Bank Indonesia Fokus Jaga Inflasi Daerah

Seiring waktu, platform tersebut terus disempurnakan dengan penambahan fitur pemantauan pasokan, neraca pangan, analisis tren harga, hingga perangkat pendukung perencanaan dan evaluasi kebijakan pengendalian inflasi.

Integrasi lintas daerah dinilai penting karena fluktuasi harga pangan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari produksi, distribusi, ketersediaan pasokan, pola konsumsi masyarakat, hingga hubungan antara daerah produsen dan daerah konsumen.

Melalui data surplus dan defisit komoditas, pemerintah daerah juga dapat mengidentifikasi peluang kerja sama antarwilayah dalam memenuhi kebutuhan pangan secara lebih efektif.

Baca Juga: Inflasi Kota Tasikmalaya Juni 2026 Hanya 0,03 Persen, Penutupan MBG Ikut Tekan Kenaikan Harga

Halaman:

Tags

Terkini