Baca Juga: Kapal Pemancing Penuh Pasir Hitam Usai Dekat Gunung Anak Krakatau, Erupsi Terekam Saat Malam
Saat berada di lokasi, Ocy mengatakan kondisi laut kembali berubah. Gelombang menjadi semakin besar dan kemudian muncul aktivitas letusan yang berlangsung hingga menjelang pagi.
“Ia sampai di area Krakatau sekitar pukul 23.00 WIB di tanggal 4 itu, udah mulai ada tanda aneh itu. Laut tiba-tiba ombak besar banget, setelah itu ada letusan dari gunung dari 23.30 WIB sampai besoknya, tanggal 5 September 2026 subuh,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat rombongan mencari tempat berlindung. Aktivitas memancing yang semula menjadi tujuan perjalanan akhirnya dihentikan karena kondisi laut dan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan.
Baca Juga: Viral Jambret HP WNA India di Menteng, Nico Januarkaro Ditangkap Polisi, Ternyata Residivis
Dentuman Terdengar dari Laut
Selain menghadapi gelombang tinggi, rombongan pemancing juga mendengar suara dentuman dari arah Gunung Anak Krakatau ketika aktivitas erupsi berlangsung.
Suara tersebut menjadi salah satu pengalaman yang masih diingat Ocy. Kondisi laut yang semakin tidak bersahabat membuat mereka tidak mengambil risiko untuk melanjutkan kegiatan.
“Waktu itu ombaknya tinggi banget, kita juga denger dentuman dari Gunung Anak Krakatau waktu meletus itu,” tambahnya.
“Kita nggak lanjutin mancing karena kita memutuskan untuk keselamatan, ombaknya gede banget dan kena erupsi,” imbuhnya.
Kesaksian pemancing itu menggambarkan kondisi yang mereka alami di Selat Sunda beberapa jam sebelum dan saat erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi.
Pasir Kasar Masuk Kapal
Selain merekam aktivitas erupsi, Ocy juga menunjukkan kondisi kapal yang digunakan rombongannya setelah berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Material berwarna gelap terlihat memenuhi sejumlah bagian kapal. Ocy menjelaskan material tersebut bukan debu halus, melainkan pasir kasar yang diduga merupakan material erupsi.