“19 September 2026, enggak kelihatan apapun.”
Dalam unggahan berikutnya, warga tersebut menceritakan dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
“Temen-temen mohon doakan kami, tempat kami khususnya di Kalimantan Tengah, di Kabupaten Barito Utara hari ini keos banget. Bertahan dengan fasilitas standar warga biasa, tetanggaku punya anak 2 tahun suaminya meninggal 4 bulan yang lalu, beliau jualan di depan rumah tapi selama kabut, gak bisa jualan,” tulisnya.
“Bayangkan ada berapa kehidupan yang terhambat mata pencahariannya karena karhutla ini. Kami bertahan dengan keadaan masing-masing, keluar rumah udah pakai masker 3 lapis tapi tetap aja pulang-pulang mata perih, masker bau asap. Mohon ampuni kami Ya Rabb,” sambungnya.
Baca Juga: Qodari Sebut HUMANIKA Sejalan dengan Prabowo, Demokrasi dan Kesejahteraan Jadi Sorotan di HUT ke-36
Status Darurat Karhutla Diperkuat
Di tengah kondisi tersebut, penanganan karhutla di Barito Utara menjadi perhatian pemerintah daerah. Sebelumnya, pemerintah kabupaten telah menetapkan status siaga darurat karhutla selama 1 Agustus hingga 29 September 2026. Hingga 31 Agustus, tercatat 182 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 124,19 hektare serta 405 titik panas di wilayah tersebut.
Sementara itu, perkembangan terbaru di tingkat provinsi menunjukkan tekanan kebakaran semakin besar.
Data Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 19 September 2026 pukul 23.59 WIB mencatat Kalimantan Tengah memiliki 1.035 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Jumlah tersebut meningkat tajam dari 166 titik pada pemantauan sebelumnya. Karena itu, Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat penguatan operasi pengendalian karhutla.
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran atau luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Operasi darat dan udara terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. Langkah yang dijalankan mencakup patroli, pengecekan lapangan, pemadaman langsung, penyekatan api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.