JAKARTA, Mediapriangan.com - Lebih dari tiga dekade perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan atau HUMANIKA menyimpan banyak cerita yang tidak selalu terlihat dari panggung politik.
Kisah itu kembali muncul ketika HUMANIKA memperingati 36 tahun berdirinya organisasi tersebut di Jakarta Selatan, Jumat, 18 September 2026.
Penulis sekaligus aktivis Hamid Basyaib yang hadir dalam acara tersebut membagikan catatan mengenai perjalanan organisasi, termasuk sosok Bursah Zarnubi sebagai salah satu penggagas serta Sri Meliyana atau Melly Zarnubi yang ikut menopang aktivitas HUMANIKA sejak masa awal.
Baca Juga: Qodari Sebut HUMANIKA Sejalan dengan Prabowo, Demokrasi dan Kesejahteraan Jadi Sorotan di HUT ke-36
Hamid menyebut lebih dari seribu orang dari berbagai latar belakang dan spektrum politik hadir dalam perayaan tersebut. Menurutnya, banyak alumni HUMANIKA kini menjalani profesi di pemerintahan maupun lembaga negara.
“Mereka, dari semua partai dan spektrum politik Indonesia, tumpah untuk merayakan ulang tahun ke-36 HUMANIKA, sebuah ormas yang pelan-pelan menjadi legenda di kalangan aktivis politik Tanah Air,” tulis Hamid dalam laman Facebooknya, Hamid Basyaib, dikutip pada Minggu, 20 September 2026.
“Status legendaris itu tidak berlebihan. Begitu banyak ‘alumni’ HUMANIKA hadir dan tak sedikit di antara mereka yang menjadi menteri atau wakil menteri, anggota DPR (dari semua parpol), bupati di berbagai daerah atau para komisaris BUMN,” lanjutnya.
HUMANIKA dan Kegelisahan Aktivis Era Orde Baru
Hamid kemudian membawa pembaca kembali ke masa ketika HUMANIKA dibentuk pada 1990. Ia menggambarkan organisasi tersebut muncul ketika ruang aktivitas politik mahasiswa berada dalam tekanan kebijakan pemerintah Orde Baru.
“Organisasi mahasiswa intra-kurikuler praktis lumpuh sebagai ekor panjang dari program sterilisasi politik pemerintah Orde Baru melalui program NKK/BKK dan kebijakan-kebijakan yang menyertainya,” tulisnya.
Menurut Hamid, HUMANIKA kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan aktivis dengan latar belakang ideologi berbeda. Salah satu basis awalnya berasal dari Kelompok Cipayung yang menghimpun aktivis HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan GMKI.
“Meskipun pemicu pembentukannya adalah pelepasan tokoh mahasiswa Universitas Jayabaya Erlangga dari penjara politik, tapi Humanika dengan cepat memikat kaum aktivis dari semua warna ideologis. Basis awalnya adalah mereka yang dikenal sebagai ‘Kelompok Cipayung’, sebuah federasi longgar para aktivis HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan GMKI,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Viral Dugaan Percobaan Pencurian di Pesawat Air Asia, WNA Terciduk Buka Tas Penumpang Saat Penerbangan
Cegah Darurat Sampah, Bupati Herdiat Sunarya Pimpin Gerakan Jumat Bersih di Ciamis Usai Raih Penghargaan Kebersihan
Hampir Sepekan Dirawat di RSCM, 2 Siswi Karo Diduga Korban Keracunan MBG Akhirnya Pulang
Shell Resmikan Pabrik Gemuk di Marunda, Bekasi, Kapasitas Produksi Capai 12 Kiloton per Tahun
Selebgram Jule Ditangkap Polisi di Apartemen Jaksel, Terseret Temuan Vape Etomidate dari Pengembangan Kasus
Fenomena Telur Ceplok Muncul di Kawah Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan soal Genangan Air Bercampur Belerang
Arief Arseha Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Kabupaten Tasikmalaya
Rana Nur Alamsyah Kembali Nahkodai Indoboxing Tasikmalaya, Diky Chandra Kukuhkan Pengurus Periode 2026-2030
Pria Penendang Wanita di Food Court Senayan City Ditangkap, Polisi Masih Usut Motif di Balik Aksi Viral
Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Wafat di Usia 81 Tahun, Ini Profil, Pendidikan dan Jejak Kariernya