IHSG Ambruk 5,91 Persen dan Rupiah Tertekan, Pasar Indonesia Dihantam Perfect Storm dari Selat Hormuz

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 16 Maret 2026 | 06:39 WIB
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai IHSG ambruk 5,91 persen dan Rupiah tertekan akibat konflik Selat Hormuz, membuat pasar Indonesia menghadapi perfect storm yang memicu capital outflow. (Dok. Pribadi)
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai IHSG ambruk 5,91 persen dan Rupiah tertekan akibat konflik Selat Hormuz, membuat pasar Indonesia menghadapi perfect storm yang memicu capital outflow. (Dok. Pribadi)

Baca Juga: JNE Content Competition 2026 Dibuka, Jurnalis hingga Mahasiswa Berpeluang Raih Hadiah Umrah dan Ratusan Juta

Puncak tekanan terjadi pada Rabu 11 Maret ketika Rupiah tertekan hingga menyentuh level terendah intraday di Rp17.015 per dolar AS.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi impor yang berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperberat kondisi pasar saham Indonesia.

Memasuki akhir pekan perdagangan, nilai tukar mulai menunjukkan tanda stabilisasi setelah intervensi otoritas moneter.

Baca Juga: Supply Chain Connex Ramadhan Edition 2026 Digelar di Bandung, Bahas Strategi Supply Chain Resilient Bersama Praktisi

“Posisi penutupan di Rp16.960 adalah 'pesan' dari pasar bahwa kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi sedang diuji. Jika level ini bertahan lama, transmisi ke sektor riil melalui lonjakan biaya logistik dan manufaktur tidak akan terhindarkan,” ujar Kusfiardi.

Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Energi

Tekanan terhadap IHSG ambruk dan Rupiah tertekan juga dipicu oleh situasi geopolitik yang memanas di kawasan Selat Hormuz.

Ketegangan di jalur energi strategis tersebut membuat harga minyak dunia melonjak. Harga minyak Brent dan WTI bahkan sempat menyentuh kisaran 113 dolar AS per barel.

Baca Juga: Buka Puasa Bersama Media, JNE Tasikmalaya Perkuat Sinergi dan Kenalkan Program JNE Content Competition 2026

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional.

“Ini adalah contagion effect yang menular ke seluruh rantai pasok dan daya beli masyarakat,” tambah Kusfiardi.

Kondisi tersebut memperburuk sentimen investor di pasar saham Indonesia, sehingga mempercepat aksi jual dan memperdalam kondisi IHSG ambruk selama pekan perdagangan.

Baca Juga: Mohamad Feriadi Soeprapto Sabet Indonesia Best CEO 2025, Bukti Kepemimpinan JNE di Tengah Ketidakpastian Global

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Pasar

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X