Menghadapi kondisi IHSG ambruk dan Rupiah tertekan, Kusfiardi menyarankan investor untuk menerapkan strategi investasi yang lebih defensif.
Ia menyarankan investor meningkatkan rasio kas dalam portofolio hingga minimal 40 persen guna menjaga fleksibilitas menghadapi volatilitas pasar.
Selain itu, sektor energi dan konsumer primer dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan sektor lain.
Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan pelemahan Rupiah seperti properti, konstruksi, dan transportasi sebaiknya dihindari sementara waktu.
Investor juga disarankan mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah dan emas fisik.
“Pekan ini adalah ujian penting. Jika level support IHSG di 7.000–7.100 mampu bertahan, kita bisa mengharapkan rebound terbatas. Namun, prioritas utama tetap mitigasi risiko terhadap kemungkinan breakout kembali ke atas Rp17.000 yang dapat mengancam stabilitas APBN,” tutup Kusfiardi.***
Artikel Terkait
Wadirut MIND ID Dorong Indonesia Naik Kelas, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Hilirisasi
Batas Investasi Saham Naik ke 20 Persen, IFG Progress Tekankan Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Hilirisasi Dorong Indonesia Naik Kelas, Wadirut MIND ID Beberkan Strategi Tekan Kemiskinan
Pasar Properti Jakarta 2026 Makin Stabil, Aktivitas Korporasi Jadi Motor Pemulihan Ekonomi Indonesia
ISCEA Indonesia Dorong Sustainability lewat Expert Class Green Procurement dan Green Supply Chain
Jerhemy Owen Ubah Sampah Sachet Jadi Papan Daur Ulang Plastik untuk Bangunan Pabrik Mininya