Sementara asuransi jiwa memiliki ruang lebih luas memanfaatkan instrumen saham sebagai sumber pertumbuhan aset jangka panjang, tetap dengan perhitungan Manajemen Risiko yang matang.
Dari sisi permodalan, IFG Progress mencatat bahwa peningkatan Batas Investasi Saham akan berdampak langsung pada kebutuhan modal berbasis risiko.
Instrumen saham memiliki tingkat risiko pasar lebih tinggi dibandingkan obligasi, sehingga kenaikan eksposur dapat meningkatkan kebutuhan Risk Based Capital dan memengaruhi rasio solvabilitas.
Secara agregat, IFG Progress melihat rasio solvabilitas industri asuransi nasional masih berada di atas batas minimum regulator.
Baca Juga: Limbah MBG Resahkan Warga Taraju, Camat Panggil Enam SPPG dan Siap Tempuh Langkah Hukum
Namun tekanan operasional, termasuk kenaikan rasio klaim dan dinamika profitabilitas, membuat disiplin Manajemen Risiko semakin penting agar fleksibilitas investasi tidak berubah menjadi sumber kerentanan baru.
“Peningkatan batas investasi saham perlu dipandang sebagai instrumen kebijakan yang mensyaratkan tata kelola yang lebih kuat, bukan pelonggaran disiplin. Dengan ALM yang ketat, pengawasan yang memadai, serta transparansi kepada pemangku kepentingan, fleksibilitas dapat menjadi pendorong stabilitas. Tanpa itu, potensi konsentrasi risiko dapat berkembang menjadi tekanan sistemik,” tutup Ibrahim.***