Tak hanya soal anggaran, Dedi juga menceritakan tekanan dari kelompok intoleran yang sempat dialaminya.
Ia menyinggung aksi penolakan yang terjadi akibat penampilannya yang lekat dengan budaya Sunda.
“Ributnya itu, saya kan kerjanya ribut, kelompok atas nama agama, waktu itu saya pake iket gini, ribut,” ungkap Dedi.
“Bilang sampurasun, ribut. Pakai Iket katanya musyrik, kafir, didemo. Waktu itu saya belum menguasai media sosial,” sambungnya.
Cerita Dedi menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan pelestarian budaya dalam kepemimpinan.
Sementara itu, Sherly mengapresiasi keterbukaan Dedi dalam berbagi pengalaman dan berharap bisa menerapkan pembelajaran tersebut dalam kepemimpinannya di Maluku Utara.***