Tak hanya soal anggaran, Dedi juga menceritakan tekanan dari kelompok intoleran yang sempat dialaminya.
Ia menyinggung aksi penolakan yang terjadi akibat penampilannya yang lekat dengan budaya Sunda.
“Ributnya itu, saya kan kerjanya ribut, kelompok atas nama agama, waktu itu saya pake iket gini, ribut,” ungkap Dedi.
“Bilang sampurasun, ribut. Pakai Iket katanya musyrik, kafir, didemo. Waktu itu saya belum menguasai media sosial,” sambungnya.
Cerita Dedi menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan pelestarian budaya dalam kepemimpinan.
Sementara itu, Sherly mengapresiasi keterbukaan Dedi dalam berbagi pengalaman dan berharap bisa menerapkan pembelajaran tersebut dalam kepemimpinannya di Maluku Utara.***
Artikel Terkait
Nekat Merokok di Kamar Hotel, 4 Jemaah Haji Indonesia Picu Alarm Kebakaran dan Kepanikan Massal di Lantai 19
Wacana BPJS Hewan Direspons PSI, Francine, Jangan Dulu, Jakarta Butuh 15 Puskeswan Sebelum Bicara Program Baru
Jadwal Bioskop Tasik XXI Plaza Asia dan Transmart Hari Ini, Deretan Film Romantis Tak Ingin Usai di Sini hingga Gowok
Viral Pria di Cianjur Mengaku Korban Salah Tangkap Polisi, Minta Tolong ke Dedi Mulyadi, Polres Beri Tanggapan
Roberto Mancini Bersuara, Hentikan Konflik di Gaza, Ini Bukan Soal Siapa Benar, Tapi Soal Kemanusiaan
Akira Higashiyama Jadi Pelatih Baru Timnas Putri U-19 Indonesia, Siap Antar Garuda Muda Tampil di AFF 2025