Mengenal Skrining Hipotiroid Kongenital yang Wajib Dilakukan Orang Tua pada Bayi Baru Lahir

photo author
Asep Budi Karyana, Media Priangan
- Rabu, 7 Desember 2022 | 17:13 WIB
Ilustrasi mengenal Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir. (Pixabay/laputaaa)
Ilustrasi mengenal Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir. (Pixabay/laputaaa)

Mediapriangan.com –  Ada banyak pemeriksaan yang dilakukan saat bayi baru lahir, salah satunya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Yaitu deteksi dini yang dilakukan pada bayi baru lahir. 

Hipotiroid Kongenital merupakan kelainan kelenjar troid sejak bayi akibat kekurangan yodium saat ibu hamil.

Pada umumnya, Hipotiroid Kongenital muncul akibat kurangnya kandungan yodium di dalam makanan ibu dan bayi. Padahal, asupan yodium sangat penting dalam proses produksi hormon tiroid.

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Buka Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 di ICE BSD City Tangerang

Adapun hormon tiroid bertugas dalam mengatur pertumbuhan, perkembangan otak, dan metabolisme tubuh pada bayi.

Dikutip dari laman Kemenkes RI, gangguan hormon tiroid dapat menganggu perkembangan dan pertumbuhan terutama pada saraf otak anak. Akibatnya anak tidak akan tumbuh optimal, cenderung pendek dan berat badan kurang.

Penemuan kasus dan pengobatan yang terlambat dapat menyebabkan anak mengalami kecacatan maupun keterbelakangan mental.

Baca Juga: Kumpul Bersama Ratusan Jamaah Haji 2022, Yod Mintaraga Minta Peran Aktif IPHI Tasikmalaya entaskan Kemiskinan

Lalu, apa itu Skrining Hipotiroid Kongenital dan mengapa begitu penting untuk bayi baru lahir?.

Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) adalah uji saring yang dilakukan pada bayi baru lahir untuk memilah bayi yang menderita Hipotiroid Kongenital (HK) dan bayi yang bukan penderita.

Skrining ini sangat penting dilkakukan, karena anak yang menderita Hipotiroid Kongenital (HK) kadang tidak menunjukkan gejala di awal. Namun bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan intelektual anak di kemudian hari.

Baca Juga: Terungkap! Ini Mas Kawin Pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono

Pentingnya SHK sesegera mungkin, agar pemberian pengobatan pada anak bisa segera diberikan. Pemberian terapi sebelum anak berusia 1 bulan dapat mencegah terjadinya kerusakan pada saraf otak, sehingga anak dapat tumbuh dengan baik.

Pada praktiknya, SHK merupakan pemeriksaan hormon tiroid pada anak dilakukan dengan pengambilan 2-3 tetes sampel darah yang diambil dari tumit bayi yang berusia 48 sampai 72 jam oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Asep Budi Karyana

Sumber: Kemenkes RI

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X