Sebelum "Dirty Vote", Dandhy telah menciptakan gelombang kontroversi dengan film dokumenternya yang sebelumnya, "Sexy Killers".
Film ini menggali kebenaran di balik industri tambang batu bara yang merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kesetiannya dalam menghadirkan fakta yang terkadang tidak populer membuatnya menjadi pembuat film yang dihormati.
Dandhy tidak hanya berkutat dalam kantor produksi, tetapi juga terlibat dalam perjalanan ke pedalaman untuk mendokumentasikan isu-isu lokal yang sensitif.
Melalui "Ekspedisi Biru"-nya, ia berhasil menghasilkan film-film pendek yang memperluas wawasan publik tentang realitas di luar kota-kota besar.
Meski telah memiliki pengalaman yang luas di lapangan, Dandhy juga mengedepankan pendidikan.
Lulus dari program S1 Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, ia juga mengikuti berbagai pelatihan di Amerika Serikat dan Inggris untuk memperdalam pemahamannya tentang media dan jurnalisme.
Profil Dandhy Laksono yang kaya akan pengalaman dan keteguhan dalam menghadapi tantangan membuatnya menjadi salah satu sutradara yang patut diacungi jempol dalam dunia film dokumenter Indonesia.***