Mediapriangan.com - Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, membongkar praktik curang dalam distribusi beras yang dinilai merugikan masyarakat secara besar-besaran. Ia mengungkap adanya modus pengoplosan beras biasa yang dikemas ulang seolah-olah beras jenis premium atau medium.
Temuan ini disampaikan langsung oleh Amran saat menghadiri rapat bersama Komisi IV DPR RI pada Rabu, 16 Juli 2025. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut sudah berlangsung dalam skala nasional dan telah menjadi perhatian serius Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan.
"Kerugian negara kita estimasi hitungan dengan tim, tapi kita serahkan pada penegak hukum, itu SPHP yang ada ini sementara pelacakan penyelidikan," tegasnya.
Modus pengoplosan ini terjadi di tengah pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang bertujuan menyediakan beras dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Namun, dalam praktiknya, Amran mengungkap bahwa hanya sebagian kecil dari stok beras SPHP yang benar-benar sampai ke tangan konsumen.
"SPHP diserahkan pada toko, 20 persen etalase, 80 persen dioplos jadi premium. Itu satu, kerugian negara," ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, Mentan memperkirakan potensi kerugian akibat praktik curang ini bisa mencapai angka yang mengejutkan.
"Kalau ini 99 triliun itu adalah masyarakat sebenenarnya ini satu tahun, tapi kalau ini terjadi 10 tahun atau 5 tahun, nanti angkanya pasti bukan 100 triliun pasti di atas," kata Amran.
Menurutnya, perbedaan harga antara beras biasa dan premium dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan besar, sementara masyarakat harus membayar lebih mahal untuk kualitas beras yang tidak sesuai label.
"Ini beras biasa, yang dijual dengan (harga) premium," tegas Amran.
Hingga kini, proses investigasi masih berlangsung dan Mentan menyerahkan penindakan lebih lanjut kepada pihak penegak hukum.