Baca Juga: Warnai HUT Bhayangkara Ke-77, Polri Rawat Situs Bersejarah Makam Waliyullah
Diketahui, Tiongkok saat ini juga sedang mengembangkan kendaraan dengan bahan bakar hydrogen untuk mempercepat transisi energi dan menurunkan emisi karbon.
Oleh karenanya, Indonesia tertarik dengan upaya pengembangan bahan bakar hydrogen yang dilakukan oleh Tiongkok, dan meminta dukungan pengusaha Tiongkok untuk dapat berinvestasi di Indonesia.
Untuk itu, melalui Melalui KEK JIIPE Gresik, Indonesia siap menampung para investor dari Tiongkok. KEK JIIPE menyediakan fasilitas insentif fiskal dan non-fiskal seperti tax holiday hingga 20 tahun, kemudahan pengurusan perizinan, insentif kepabeanan, kemudahan imigrasi, serta insentif lahan.
Selain itu, pengusaha Tiongkok juga berharap agar Indonesia dapat mengekspor lebih banyak produk sawitnya ke Tiongkok. Hal tersebut disambut baik Airlangga. Namun disisi lain Pemerintah Indonesia juga harus memenuhi standard sustainability yang telah ditetapkan.
Dijelaskan juga, bahwa Pemerintah Indonesia telah resmi menerapkan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) Biodiesel 35 persen (B35). Penerapan B35 menyusul keberhasilan program B30, dan merupakan langkah Pemerintah untuk mengurangi impor minyak serta menghemat devisa negara.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Komisi I DPR Republik Indonesia Meutya Viada Hafid menyampaikan harapan dan dukungan Tiongkok untuk pengembangan transformasi digital dalam rangka mempercepat pengembangan UMKM di Indonesia.
Baca Juga: Ini Kata Gubernur Ridwan Kamil Untuk Indonesia Negara Adidaya
Para Delegasi pengusaha Tiongkok yang turut hadir pun menyampaikan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia.
Delegasi tersebut yakni Chairman Tianjin RockCheck Investment Holding Group, Chairman Chint Goup, Chairman Spring Airlines, Chairman Guangdong Evergreen Conglomerat Co. Ltd., dan Executive President Yili Group.***