MEDIAPRIANGAN - Setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan kasus cacar monyet atau monkeypox pertama di Indonesia, Sabtu 20 Agustus 2022. Informasi tentang penyakit cacar monyet ini banyak dicari oleh masyarakat.
Namun sebelum ini, Organisasi Kesehatan DUnia (WHO) sudah menetapkan penyakit cacar monyet ini sebagai darurat kesehatan global. Bahkan, WHO melaporkan sudah ada lebih dari 16 ribu kasus di 75 negara.
Gejala penyakit cacar monyet
Dikutip mediapriangan dari berbagai sumber, cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet adalah bagian dari keluarga virus yang sama dengan virus variola, virus yang menyebabkan cacar.
Baca Juga: Penampilan Menuai Kontroversi, Sherine Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Penonton di Bandara
Gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar biasa namun lebih ringan, serta jarang ditemukan kasus cacar monyet yang berakibat fatal. Selain itu, penyakit ini tidak berhubungan dengan cacar air.
Gejala penyakit ini secara umum mirip dengan penyakit cacar (smallpox), seperti demam dan ruam kulit yang melepuh menjadi lenting. Namun, gejala juga diiringi dengan pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak.
Cara penularan penyakit cacar monyet
Monyet adalah inang utama dari virus monkeypox. Oleh sebab itu, penyakit ini disebut dengan cacar monyet. Kasus yang menular dari monyet ke manusia pertama kali ditemukan pada tahun 1970 di Kongo, Afrika Selatan.
Baca Juga: Kejar Ketertinggalan Penerimaan Pajak, DPRD Jabar Dorong Pemanfaatan Aset Jawa Barat
Penularan penyakit cacar monyet di antara manusia berlangsung melalui kontak langsung dengan lenting atau luka di kulit, cairan tubuh, droplet (percikan air liur) yang dikeluarkan saat bersin dan batuk, serta menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus monkeypox.
Bahaya penyakit ini dapat dicegah dengan efektif melalui vaksin. Antivirus untuk pengobatan cacar monyet masih terus diteliti secara lebih lanjut.
Asal usul penyakit cacar monyet
Asal usul cacar monyet berawal menjadi penyakit endemik di daerah Afrika Tengah dan Barat. Ditemukan pertama kali pada tahun 1958 ketika wabah cacar marak menyerang kumpulan kera yang sengaja dipelihara untuk penelitian.