Wisata Religi Jembrana, Ziarah ke Makam Buyut Lebai dan Ali Bafaqih, Jejak Islam di Tengah Budaya Hindu Bali

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 16 Juli 2025 | 17:49 WIB
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali.  (Dok. Pemprov Bali)
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali. (Dok. Pemprov Bali)

 

Mediapriangan.com - Di balik dominasi budaya Hindu yang kental di Pulau Dewata, Jembrana di Bali Barat menjadi saksi bisu jejak penyebaran Islam yang kuat sejak berabad-abad lalu.

Wilayah Jembrana ini menyimpan dua situs religi penting yang masih lestari dan terus diziarahi hingga kini: makam Buyut Lebai dan makam Ustaz Ali Bafaqih.

Keduanya bukan sekadar tempat peristirahatan para tokoh agama, tapi juga menjadi destinasi wisata religi yang menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, dan warisan budaya lintas zaman.

Baca Juga: Napak Tilas Sejarah Kerajaan Jembrana di Puri Agung Negara, Bangunan Kuno Bergaya Belanda yang Masih Berdiri Kokoh

1. Makam Buyut Lebai, Ulama dari Sarawak

Terletak di Jalan Gunung Agung, Kelurahan Loloan Timur, pusara Buyut Lebai, atau dikenal juga sebagai Datuk Dawam Sirojuddin, menjadi salah satu tujuan utama ziarah religi.

Ia merupakan ulama besar asal Sarawak, Malaysia, yang hidup pada abad ke-17 dan diizinkan menyebarkan Islam oleh penguasa Jembrana kala itu.

Buyut Lebai lahir pada 1619 M dan wafat pada 1744 M, dan dikenal sebagai tokoh penting dalam penyebaran Islam di Bali.

Baca Juga: Kemenpar Genjot Pemerataan Wisata Lewat Paket 3B, Jalur Laut Banyuwangi–Lovina Disiapkan, OTA Mulai Jualan!

Di sekitar makamnya juga terdapat pusara para pengikutnya, yang disebut-sebut sebagai rombongan pertama yang membawa ajaran Islam ke wilayah Jembrana.

2. Makam Ustaz Ali Bafaqih, Wali Pitu dari Bali

Sementara itu, di Jalan Nangka No. 145, Desa Loloan Barat, berdiri Pondok Pesantren Syamsul Huda, tempat disemayamkannya Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih.

Lahir di Banyuwangi pada 1 Januari 1882 dan wafat pada 22 Februari 1999 di usia 117 tahun, beliau dikenal sebagai ulama kharismatik yang mendirikan pesantren tersebut sejak 1935.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X